Sunday, 22 March 2015

Percaya Diri dan Tahu Diri



Oleh: Muh. Carnegi Matondang




Bicara tentang seorang pemimpin, pasti yang terlintas di kepala kebanyakan orang adalah seorang presiden, gubernur, bupati, ketua, perdana, menteri, dsb. Sosok seorang pemimpin selalu dilihat dari jabatan yang dimilikinya saja. Tidak salah jika patokan orang untuk mengklaim seorang pemimpin itu berdasarkan kedudukan yang dimilikinya. Karena sejatinya seorang pemimpin adalah orang yang memimpin orang lain. Dan untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang ideal harus mempunyai jiwa kepemimpinan.


Terlepas dari itu semua, seorang pemimpin tidak hanya orang yang mempunyai kedudukan saja. Sebagai manusia yang percaya bahwa kita dilahirkan di dunia seyogyanya adalah untuk menjadi seorang pemimpin, baik itu untuk memimpin diri kita sendiri. Apakah mungkin jika kita gagal untuk memimpin diri sendiri, kita akan dapat memimpin orang lain. Tentu saja jawabannya tidak. Oleh karena itu, untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang ideal harus mempunyai karakter yang kuat.

Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mempunya ilmu dan dilandasi oleh iman yang kuat. Kebanyakan pemimpin sekarang tidak memperdulikan kewajibannya kepada penciptanya. Mereka memang mempunyai ilmu yang banyak, bahkan digolongkan kedalam orang yang cerdas. Tapi apalah gunanya ilmu itu tanpa dilandasi dengan iman, ilmu itu akan menjadi boomerang bagi pemiliknya sendiri. Orang yang tidak beriman akan mudah goyah jika dihadapkan pada suatu masalah sehingga mengakibatkan orang tersebut menyerah dengan keadaan.

Seorang pemimpin harus mempunyai kepercayaan diri yang besar. Karena ketika menghadapi masalah dan terjatuh, dia akan bangkit lagi. “jatuh itu biasa”, tapi bangkit setelah terjatuh itu yang luar biasa. Tidak semua orang dapat berdiri tegap kembali ketika dia telah terjatuh atau bahkan telah terlelap. Seorang pengecut akan lari dari masalah dan tetap menikmati sakitnya jatuh tanpa berfikir untuk bangkit kembali. Seorang pemimpin harus mempunyai visi dan misi yang jelas. Karena tanpa adanya hal tersebut, tidak akan ada yang dapat memotivasinya untuk bangkit kembali setelah terjatuh. Rasulullah pernah bersabda

“adakah kamu tahu bahwa kekuatan itu ada pada memanah”, ada target yang ingin dicapai. Dan pemanah akan terfokus pada target tersebut. Karena ketika pemanah itu melenceng pada target tersebut. Orang yang percaya diri tidak akan peduli berapa kali dia jatuh, tapi berapa kali dia bangkit setelah jatuh.


Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika kita mendapatkan suatu amanah dan tanggung jawab, maka masalah-masalah akan datang silih berganti. Bagaikan pohon, semakin tinggi pohon tersebut, maka semakin kencang pula angin yang menerpa. Pemimpin yang beriman tidak akan pernah takut untuk menghadapi masalah. Karena sesungguhnya masalah itu adalah bukti cintanya Allah terhadap hambanya. Pemimpin yang beriman tidak akan mengatakan

“Wahai Allah masalahku sanga besar”, tapi dia akan mengatakan “wahai masalah Allah itu sangat besar. Untuk menjadi seorang pemimpin yang kompetitif berarti dia harus mempunyai hal yang lebih unggul dibandingkan orang lain. Yang saya maksud disini bukanlah harta kekayaan, tapi rasa tawaduq dan rendah diri. Kebanyakan harta kekayaan hanya membuat orang menjadi sombong dan angkuh.

No comments:

Post a Comment