Oleh: Muh. Carnegi Matondang
Bicara tentang seorang pemimpin, pasti
yang terlintas di kepala kebanyakan orang adalah seorang presiden, gubernur,
bupati, ketua, perdana, menteri, dsb. Sosok seorang pemimpin selalu dilihat
dari jabatan yang dimilikinya saja. Tidak salah jika patokan orang untuk
mengklaim seorang pemimpin itu berdasarkan kedudukan yang dimilikinya. Karena
sejatinya seorang pemimpin
adalah orang yang memimpin orang lain. Dan untuk bisa menjadi seorang pemimpin
yang ideal harus mempunyai jiwa kepemimpinan.
Terlepas dari itu semua, seorang pemimpin tidak hanya
orang yang mempunyai kedudukan saja. Sebagai manusia yang percaya bahwa kita
dilahirkan di dunia seyogyanya adalah untuk menjadi seorang
pemimpin, baik itu untuk memimpin diri kita sendiri. Apakah mungkin jika kita
gagal untuk memimpin diri sendiri, kita akan dapat memimpin orang lain. Tentu
saja jawabannya tidak. Oleh karena itu, untuk bisa menjadi seorang pemimpin
yang ideal harus mempunyai karakter yang kuat.
Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mempunya ilmu
dan dilandasi oleh iman yang kuat. Kebanyakan pemimpin sekarang tidak
memperdulikan kewajibannya kepada penciptanya. Mereka memang mempunyai ilmu
yang banyak, bahkan digolongkan kedalam orang yang cerdas. Tapi apalah gunanya
ilmu itu tanpa dilandasi dengan iman, ilmu itu akan menjadi boomerang bagi
pemiliknya sendiri. Orang yang tidak beriman akan mudah goyah jika dihadapkan
pada suatu masalah sehingga mengakibatkan orang tersebut menyerah dengan
keadaan.
Seorang pemimpin harus mempunyai kepercayaan diri yang
besar. Karena ketika menghadapi masalah dan terjatuh, dia akan bangkit lagi.
“jatuh itu biasa”, tapi bangkit setelah terjatuh itu yang luar biasa. Tidak
semua orang dapat berdiri tegap kembali ketika dia telah terjatuh atau bahkan
telah terlelap. Seorang pengecut akan lari dari masalah dan tetap menikmati
sakitnya jatuh tanpa berfikir untuk bangkit kembali. Seorang pemimpin harus
mempunyai visi dan misi yang jelas. Karena tanpa adanya hal tersebut, tidak
akan ada yang dapat memotivasinya untuk bangkit kembali setelah terjatuh.
Rasulullah pernah bersabda
“adakah
kamu tahu bahwa kekuatan itu ada pada memanah”, ada target yang ingin dicapai.
Dan pemanah akan terfokus pada target tersebut. Karena ketika pemanah itu
melenceng pada target tersebut. Orang yang percaya diri tidak akan peduli
berapa kali dia jatuh, tapi berapa kali dia bangkit setelah jatuh.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa ketika kita mendapatkan suatu amanah dan tanggung jawab,
maka masalah-masalah akan datang silih berganti. Bagaikan pohon, semakin tinggi
pohon tersebut, maka semakin kencang pula angin yang menerpa. Pemimpin yang
beriman tidak akan pernah takut untuk menghadapi masalah. Karena sesungguhnya
masalah itu adalah bukti cintanya Allah terhadap hambanya. Pemimpin yang
beriman tidak akan mengatakan
“Wahai
Allah masalahku sanga besar”, tapi dia akan mengatakan “wahai masalah Allah itu
sangat besar. Untuk menjadi seorang pemimpin yang kompetitif berarti dia harus
mempunyai hal yang lebih unggul dibandingkan orang lain. Yang saya maksud
disini bukanlah harta kekayaan, tapi rasa tawaduq dan rendah diri. Kebanyakan
harta kekayaan hanya membuat orang menjadi sombong dan angkuh.
No comments:
Post a Comment