Oleh: Nur Rahmah Masda
Apoteker dan tenaga kesehatan lainnya bisa dibilang kalah
pamor dengan dokter. Dokter dianggap berada di level yang lebih tinggi daripada
tenaga kesehatan lainnya. Padahal, sebenarnya setiap profesi memiliki peran dan
tanggung jawab masing-masing dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
Menilik pada kenyataan yang terjadi saat ini, paradigma
masyarakat yang sejak dulu menganggap dokter sebagai dewa kesehatan tidak dapat
dipungkiri. Hal inilah yang kadang menjadi alasan dokter tidak sepenuhnya salah
atas situasi ini. Kenyataannya, memang dokterlah yang terjun di lapangan dan
bertemu masyarakat. Apoteker dan tenaga kesehatan lain berada di belakang
layar. Namun tindakan dokter-dokter “nakal” yang memonopoli peran juga tidak
dapat dibenarkan.
Jika kita bertanya pada masyarakat awam mereka akan
berkata bahwa apoteker itu yang jualan obat, apoteker itu yang buka apotek di
pinggir jalan. Opini masyarakat itulah yang kadang membuat apoteker bmenjerit,
merasa tersingkirkan. Masyarakat ke apotek hanya untuk menebus resep yang
diberikan dokter, tanpa mereka tahu obat macam apa yang diberikan pada mereka,
masyarakat tidak pernah menanyakan itu karena mereka percaya pada dokter.
Inilah yang tidak dimiliki oleh apoteker di Indonesia.
Fakta yang ada di luar negeri apooteker dan dokter hidup
berdampingan. Dokter yang mendiagnosa penyakit dan apoteker yang membuat resep.
Tidak mengherankan kini apoteker menuntut adanya kesetaraan dengan dokter.
Namun sayangnya usaha tersebut masih menemui jalan buntu karena tuntutan mereka
tidak dibarengi dengan peningkatan kualitasapoteker itu sendiri.
Contoh hal kecil saja. Untuk mendirikan sebuah apotek
dibutuhkan seorang apoteker. Tetapi saat apotek sudah berdiri apoteker yang
digunakan namanya untuk mendirikan apotek jarang ada di tempat. Padahal
seharusnya mereka ada di sana setiap saat, menjelaskan kepada pasien tentang
interaksi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter dan efeknya pada kesehatan.
Inilah perbedaan mendasar antara apoteker Indonesia dan apoteker di luar
negeri. Apoteker diluar negeri lebih dihargai karena keberadaan mereka yang
nyata di masyarakat, membuka sesi konsultasi, menjelaskan interaksi obat dan
lain-lain.
Masalah lain yang juga membutuhkan perhatian adalah
kurikulum pendidikan profesi apoteker di Indonesia. Kurikulum yang ada di
beberapa Universitas Indonesia masih menuntut
apoteker
untuk menguasai berbagai bidang .dan akhirnya berdampak pada kinerja apoteker
yang tidak maksimal karena tidak terfokusnya ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Kenyataan adanya dokter spesialis dan tidak adanya apoteker spesialis membuat
jarak antara dokter dan apoteker makin lebar.
Oleh karena itu, untuk mencapai kesetaraan dengan dokter
di mata masyarakat , jalan bagi apoteker Indonesia masih sangat panjang. Tahap
Pertama yang harus dilakukan adalah memantaskan diri, bekali diri dengan
kompetensi memadai dan tingkatkan profesionalisme. Semoga di masa depan
apoteker berhasil menunjukkan eksistensi dirinya dan pembagian peran antara
tenaga kesehatan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
No comments:
Post a Comment