Oleh: Melati Mekar Mewangi
Citra sebuah profesi di mata masyarakat menujukkan sejauh
mana masyarakat mengenal dan merasa terbantu oleh profesi tersebut terutama
dalam pelayanannya pada masyarakat. Semakin baik suatu pelayanan pada
masyarakat maka citra tersebut akan baik pula. Sebenarnya apa sih itu citra?
Apa sih itu pencitraan? Pencitraan sangat perlu untuk sebuah profesi tersebut
dapat dikenal yang paling utama ialah dihargai oleh masyarakat. Namun pada
kenyataannya profesi apoteker di Indonesia kurang dikenal oleh masyarakat. Jika
ditanya mengenai apoteker kepada masyarakat, kebanyakan jawabannya ialah
“tukang obat”.
Sebuah
paradigma yang sangat memilukan, mereka hanya mengetahui sebatas itu profesi
apoteker. Masyarakat hanya mengetahui bahwa apoteker hanya bertugas di apotek
tanpa mengetahui tugas mereka yang sebenarnya. Bahkan masyarakat awam tidak
mengetahui bahwa prospek kerja apoteker tidak hanya sebatas itu namun sangat
luas.padahal produk sehari-hari yang mereka gunakan ialah kebanyakan
produk-produk farmasis. Mengapa demikian?
Buruk citra profesi di masyarakat merupakan akibat dari
ketidakprofesionalan dan kelalaian dari para apoteker itu sendiri. Kita mungkin
geram melihat pihak-pihak yang seenaknya menggarap profesi lain, bahkan
masyarakat awam pun dengan beraninya dapat menggantikan peran apoteker yang
seharusnya wewenang dan tanggung jawab seorang apoteker. Namun pada dasarnya
hal ini merupakan kesalahan para apoteker itu sendiri karena belum dapat
menjaga citranya sendiri dan menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik.
Seperti yang kita jumpai bahwa pelayanan apoteker sangat kurang pada
masyarakat, mereka hanya datang memantau apoteknya saja tanpa memberikan
pelayanannya. Jika dibandingkan dengan dokter, apoteker ibaratnya berada di
belakang layar yang dapat dianalogikan sebagai apoteker sebagai sutradaranya
sedangkan dokter sebagai pemeran utamanya. Masyarakat hanya menilai apa yang
mereka lihat saja. Mereka tidak mau tahu siapa yang berada dibelakangnya,
sehingga yang menonjol ialah hanya dokter saja, karena mereka memberikan
pelayanan secara langsung terhadap masyarakat. Padahal apoteker juga turut
memberikan andil terhadap penyembuhan pasien salah satu penyebab kurangnya
citra apoteker juga ialah sistem pendidikan farmasi khususnya apoteker kurang
bahkan belum terarah. Farmasi dituntut untuk menguasai semua hal, sehingga
setelah seorang farmasis telah selesai menempuh pendidikannya, ia tidak tahu
harus ke arah mana.
Pharmaceutical care diharapkan profesi apoteker yang
berorientasi pada drug oriented (pelayanan obat) dapat beralih menjadi
pharmaceutical care (pelayanan pasien) yang dimana prinsip drug oriented yaitu
apoteker sebagai profesi dibalik layar yakni meracik dan menyuplai
sediaan
farmasi. Namun pada prinsip, apoteker bukan hanya fokus pada obat, namun lebih
terarah yakni pemberian pelayanan, informasi, dan kepedulian terhadap pasien.
Dengan sistem tersebut diharapkan masyarakat da lebih mengenal dan mengetahui
profesi apoteker yang tidak hanya untuk meracik obat saja tetapi dapat
melakukan hal-hal yang lebih luas lagi. Namun, pada kenyataan di lapangan,
apoteker masih banyak yang belum menjalankan sistem ini dengan sepenuhnya. Hal
ini membuat citra apoteker di masyarakat masih kurang dikenal. Untuk itu
sebagai farmasis diharapkan memperbaiki citra profesi kefarmasian/apoteker
dengan mengabdi dan melayani masyarakat dengan baik.
No comments:
Post a Comment