Sunday, 22 March 2015

Aquarium Kecil, Jalan Terdekat yang Dianggap Remeh



Oleh : Nurul Mukhlisah Nasir

 

 


Di dunia kesehatan, profesi yang katanya paling disegani dan mempunyai citra yang baik di mata masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang berjas putih. Orang-orang jas putih itu dianggap sebagai tempat pertama yang akan dihubungi jika menyangkut masalah kesehatan. Padahal di dunia kesehatan, tak hanya ada orang-orang berjas putih, namun ada profesi-profesi lain yang mempunyai tanggung jawab di setiap aspek kesehatan. Misalnya, seorang apoteker yang bertanggungjawab di bagian obat-obatan, perawat yang bertanggung jawab di aspek keperawatan.


Citra yang baik ini menyebabkan sebuah tingkatan derajat di mata masyarakat. Dokter dianggap mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dibanding profesi-profesi lainnya, terutama dengan profesi apoteker. Profesi apoteker hanya dianggap sebagai bawahan dari profesi dokter, hanya peracik obat. Miris rasanya ketika seorang apoteker dianggap sebagai dokter saat melakukan tugasnya yang berupa pelayanan konseling informasi dan edukasi mengenai obat. Hal itu membuktikan bahwa apoteker gagal dalam mencitrakan dirinya sendiri.

Pertanyaannya, apa penyebab kegagalan dalam pencitraan itu?

Jawabannya bukan di masyarakat Indonesia, namun ada di dalam diri seorang apoteker itu.

Banyak apoteker yang melupakan profesinya dan memilih untuk bergelut di bidang lain. Disamping itu seorang apoteker terlalu sibuk berada di balik layar dan kurang bersosialisasi langsung dengan masyarakat Indonesia serta kurangnya kepercayaan diri di dalam diri seorang apoteker.

Salah satu cara untuk mencitrakan diri bagi seorang apoteker adalah dengan memberikan pelayanan yang baik di apotek. Karena dengan bekerja di tempat yang sering disebut oleh masyarakat sebagai aquarium kecil, seorang apoteker bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat dan menciptakan citra yang baik.

Sayangnya, bekerja di apotek menjadi hal terakhir yang akan dilakukan oleh seorang apoteker. Dan ketika menjadi mahasiswa farmasi, calon apoteker seringkali ditertawai jika berkeinginan hanya bekerja sebagai apoteker. Menganggap bahwa tidak ada yang “wah” jika bekerja di apotek. Lulusan apoteker juga cenderung memilih untuk bekerja di tempat-tempat


yang lebih bergengsi, tanpa menyadari bahwa semakin tinggi jabatan pekerjaan itu maka semakin jauh pula ia dengan masyarakat.

Sering ketika kita mengunjungi apotek, bukan seorang apoteker yang akan kita temui disana, melainkan hanya orang pengganti. Dan jikapun ada seorang apoteker di apotek tersebut, pelayanan yang diberikan kurang baik. Hanya sekedar diberikan resep, mengambilkan obat-obat dan menerima uang. Tidak ada pelayanan informasi obat yang semestinya dilakukan. Jadi, sekali lagi jawaban permasalahan aquarium ini hanya apoteker yang dapat menjawab, hanya kita yang tahu. Berubahlah.

No comments:

Post a Comment