Oleh: Amalia Pertiwi Akbar
Farmasis adalah seseorang yang ahli didalam obat-obatan
dan umumnya adalah pakar kesehatan yang mengoptimalkan penggunaan obat kepada
pasien untuk kesehatan yang lebih baik. Farmasi didefinisikan sebagai profesi
yang menyangkut seni dan ilmu penyediaan bahan obat, dari sumber alam atau
sintetik yang sesuai, untuk disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan
pencegahan penyakit.
Lapangan pekerjaan seorang farmasis sangat luas, tidak
hanya menjadi seorang apoteker di apotek-apotek tetapi seorang farmasis banyak
yang bekerja di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan), di industry-industri
khususya industri obat-obatan, di bank, dll.
Di industri seorang farmasis (apoteker) mengambil bagian
paling penting mulai dari pemeriksaan bahan baku obat hingga menjadi sebuah
produk yang layak untuk dipasarkan. farmasis juga dapat bekerja di bank,
mungkin kalian bertanya-tanya mengapa seorang farmasis bisa bekerja di bank
padahal ini bukanlah bidangnya tapi jangan salah seorang farmasis sejak dahulu
sudah terkenal sebagai seorang yang teliti dan tekun dalam mengerjakan suatu
hal. Bayangkan saja bila seorang farmasis tidak bekerja dengan teliti,
kandungan obat bisa-bisa tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Membahas tentang ketelitian seorang farmasis. Ketelitian
seorang farmasis sangat diperlukan seperti kasus PT. Kalbe Farma yang salah
satu obatnya tertukar. Dalam kasus ini diceritakan bahwa terjadi penukaran
etiket pada obat batch Buvanest Spina 0,5 % Heavy 4 ml dan Asam Tranexamat
Generik 500 mg/Amp Sml batch no. 629668 dan 630025. Kasus ini sangat fatal
karena mengakibatkan dua orang pasien tewas setelah menggunakan obat ini. Di
satu sisi kita pasti menyalahkan industri tersebut dan kalian tahu orang-orang
yang bekerja di industri adalah seorang apoteker dan semua memegang peran
penting. Jadi, apakah ini kesalahan orang-orang yang berada di industri? Dan
kedua obat tersebut telah ditarik dari pasaran oleh BPOM. Jika BPOM sudah
menarik obat dari peredaran berarti obat yang diproduksi memang memiliki etiket
yang salah dan itu adalah kesalahan intdustri tapi apakah kalian pernah
berpikitr bahwa apabila industri salah, mengapa hanya dua obat itu saja yang
mematikan dua pasien tersebut dan mengapa hanya pada satu rumah sakit padahal
tidak mungkin obat yang diproduksi hanya dua dan meskipun terjadi kesalahan
yang sebenarnya fatal PT. Kalbe Farma tetap tidak ditutup. PT. Kalbe Farma
tidak ditutup karena beberapa pihak sangat mempertimbangkan hal-hal yang akan
terjadi, apabila
industri besar yang ada di Indonesia
ini ditutup maka akan meningkatkan jumlah pengangguran dan menurunkan APBN
Negara, Negara akan rugi besar-besaran.
Membahas tentang apoteker, apakah masyarakat sudah tahu
tugas seorang apoteker yang sebenarnya? Saya rasa tidak, mereka hanya tahu
apoteker hanya orang-orang yang mengambilkan obat ketika mereka menebus obat di
apotek. Paradigma masyarakat saat ini adalah dokterlah segalanya apabila
membahas masalah kesehatan, mereka tidak pernah tahu bahwa selain dokter ada
seorang apoteker yang memiliki tugas tidak kalah pentingnya dari seorang
dokter. Mereka tidak tahu bahwa tugas dokter sebenarnya hanya mendiagnosis
suatu penyakit tapi apa yang terjadi sekarang tidaklah sama dengan teori-teori
yang kita ketahui. Sekarang, seorang dokter selain mendiagnosis suatu penyakit
dia juga yang memberikan resep pada pasien lalu apoteker hanya memberikan obat
kepada pasien ketika menebus obat dan itupun tidak semua apotek yang melayani
penebusan obat adalah seorang apoteker. Seorang pasien juga lebih percaya
perkataan dokter mengenai obat padahal yang lebih tahu masalah obat adalah
seorang apoteker. Selama kurang lebih lima tahun seorang apoteker mempelajari
mekanisme obat, sampai efek samping dari obat tersebut dan itu bukanlah
merupakan hal yang mudah. Namun yang terjadi apoteker hanya terlihat seperti
pembantu dokter.
Hal tersebut terjadi karena kita tidak memperkenalkan
profesi farmasi kepada masyarakat dan kurang percaya dirinya seorang farmasis
di depan masyarakat hal ini terjadi kita lebih banyak menghasilkan waktu di
laboratorium sehingga kita jarang berinteraksi secara langsung dengan
masyarakat, kurangnya edukasi mengenai kefarmasian, banyaknya seorang farmasis
yang keluar dari disiplin ilmu maksudnya bekerja di tempat yang sebenarnya
tidak sesuai dengan yang mereka pelajari, banyaknya apoteker yang hanya membuka
apotek ataupun meminjamkan (menyewakan) surat izin membuka apotek kepada orang
lain sehingga jarang berada di apotek dan ini semua membuat seorang apoteker semakin
tidak dikenali masyarakat dan semakin menenggelamkan apoteker Indonesia.
Sebagai mahasiswa dan calon farmasis, masa depan, kita
harus memulai hal kecil yaitu bangga kuliah di farmasi, mulai memperbanyak
relasi dengan ikut berorganisasi karena seperti yang kita ketahui seorang
farmasis lebih banyak menghasilkan waktu di laboratorium sehingga kita sukar
berinteraksi dengan orang lain, lebih percaya diri, memperkenalkan profesi kita
kepada orang-orang karena tidak mungkin kita dikenali orang-orang apabila bukan
kita yang terlebih dahulu mengenalkan siapa kita seberarnya. Kita tidak bisa
menyalahkan sistem yang ada, tidak bisa dipungkiri seorang farmasis lebih
banyak meluangkan waku di laboratorium karena disitulah mereka bereksperimen
dengan formulasi-farmulasi baru yang akan mereka buat yang sebenarnya demi
kepentingan bersama nantinya.
“Farmasis sejati adalah seorang yang bangga akan
profesinya”
No comments:
Post a Comment