Monday, 16 March 2015

Apa Kabar Farmasis Hari Ini?




Oleh: Amalia Pertiwi Akbar



Farmasis adalah seseorang yang ahli didalam obat-obatan dan umumnya adalah pakar kesehatan yang mengoptimalkan penggunaan obat kepada pasien untuk kesehatan yang lebih baik. Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan ilmu penyediaan bahan obat, dari sumber alam atau sintetik yang sesuai, untuk disalurkan dan digunakan pada pengobatan dan pencegahan penyakit.

Lapangan pekerjaan seorang farmasis sangat luas, tidak hanya menjadi seorang apoteker di apotek-apotek tetapi seorang farmasis banyak yang bekerja di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan), di industry-industri khususya industri obat-obatan, di bank, dll.

Di industri seorang farmasis (apoteker) mengambil bagian paling penting mulai dari pemeriksaan bahan baku obat hingga menjadi sebuah produk yang layak untuk dipasarkan. farmasis juga dapat bekerja di bank, mungkin kalian bertanya-tanya mengapa seorang farmasis bisa bekerja di bank padahal ini bukanlah bidangnya tapi jangan salah seorang farmasis sejak dahulu sudah terkenal sebagai seorang yang teliti dan tekun dalam mengerjakan suatu hal. Bayangkan saja bila seorang farmasis tidak bekerja dengan teliti, kandungan obat bisa-bisa tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Membahas tentang ketelitian seorang farmasis. Ketelitian seorang farmasis sangat diperlukan seperti kasus PT. Kalbe Farma yang salah satu obatnya tertukar. Dalam kasus ini diceritakan bahwa terjadi penukaran etiket pada obat batch Buvanest Spina 0,5 % Heavy 4 ml dan Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp Sml batch no. 629668 dan 630025. Kasus ini sangat fatal karena mengakibatkan dua orang pasien tewas setelah menggunakan obat ini. Di satu sisi kita pasti menyalahkan industri tersebut dan kalian tahu orang-orang yang bekerja di industri adalah seorang apoteker dan semua memegang peran penting. Jadi, apakah ini kesalahan orang-orang yang berada di industri? Dan kedua obat tersebut telah ditarik dari pasaran oleh BPOM. Jika BPOM sudah menarik obat dari peredaran berarti obat yang diproduksi memang memiliki etiket yang salah dan itu adalah kesalahan intdustri tapi apakah kalian pernah berpikitr bahwa apabila industri salah, mengapa hanya dua obat itu saja yang mematikan dua pasien tersebut dan mengapa hanya pada satu rumah sakit padahal tidak mungkin obat yang diproduksi hanya dua dan meskipun terjadi kesalahan yang sebenarnya fatal PT. Kalbe Farma tetap tidak ditutup. PT. Kalbe Farma tidak ditutup karena beberapa pihak sangat mempertimbangkan hal-hal yang akan terjadi, apabila

industri besar yang ada di Indonesia ini ditutup maka akan meningkatkan jumlah pengangguran dan menurunkan APBN Negara, Negara akan rugi besar-besaran.

Membahas tentang apoteker, apakah masyarakat sudah tahu tugas seorang apoteker yang sebenarnya? Saya rasa tidak, mereka hanya tahu apoteker hanya orang-orang yang mengambilkan obat ketika mereka menebus obat di apotek. Paradigma masyarakat saat ini adalah dokterlah segalanya apabila membahas masalah kesehatan, mereka tidak pernah tahu bahwa selain dokter ada seorang apoteker yang memiliki tugas tidak kalah pentingnya dari seorang dokter. Mereka tidak tahu bahwa tugas dokter sebenarnya hanya mendiagnosis suatu penyakit tapi apa yang terjadi sekarang tidaklah sama dengan teori-teori yang kita ketahui. Sekarang, seorang dokter selain mendiagnosis suatu penyakit dia juga yang memberikan resep pada pasien lalu apoteker hanya memberikan obat kepada pasien ketika menebus obat dan itupun tidak semua apotek yang melayani penebusan obat adalah seorang apoteker. Seorang pasien juga lebih percaya perkataan dokter mengenai obat padahal yang lebih tahu masalah obat adalah seorang apoteker. Selama kurang lebih lima tahun seorang apoteker mempelajari mekanisme obat, sampai efek samping dari obat tersebut dan itu bukanlah merupakan hal yang mudah. Namun yang terjadi apoteker hanya terlihat seperti pembantu dokter.

Hal tersebut terjadi karena kita tidak memperkenalkan profesi farmasi kepada masyarakat dan kurang percaya dirinya seorang farmasis di depan masyarakat hal ini terjadi kita lebih banyak menghasilkan waktu di laboratorium sehingga kita jarang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat, kurangnya edukasi mengenai kefarmasian, banyaknya seorang farmasis yang keluar dari disiplin ilmu maksudnya bekerja di tempat yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang mereka pelajari, banyaknya apoteker yang hanya membuka apotek ataupun meminjamkan (menyewakan) surat izin membuka apotek kepada orang lain sehingga jarang berada di apotek dan ini semua membuat seorang apoteker semakin tidak dikenali masyarakat dan semakin menenggelamkan apoteker Indonesia.

Sebagai mahasiswa dan calon farmasis, masa depan, kita harus memulai hal kecil yaitu bangga kuliah di farmasi, mulai memperbanyak relasi dengan ikut berorganisasi karena seperti yang kita ketahui seorang farmasis lebih banyak menghasilkan waktu di laboratorium sehingga kita sukar berinteraksi dengan orang lain, lebih percaya diri, memperkenalkan profesi kita kepada orang-orang karena tidak mungkin kita dikenali orang-orang apabila bukan kita yang terlebih dahulu mengenalkan siapa kita seberarnya. Kita tidak bisa menyalahkan sistem yang ada, tidak bisa dipungkiri seorang farmasis lebih banyak meluangkan waku di laboratorium karena disitulah mereka bereksperimen dengan formulasi-farmulasi baru yang akan mereka buat yang sebenarnya demi kepentingan bersama nantinya.

“Farmasis sejati adalah seorang yang bangga akan profesinya”


No comments:

Post a Comment