Monday, 16 March 2015

Eksistensi Farmasi


Oleh: Amrianto






Keberadaan farmasi di zaman sekarang kian hari kian meningkat, mungkin hanya dari data kuantitatifnya, namun dari data kualitatifnya tidak ada perubahan yang signifikan. Hanya sebagian besar masyarakat mengenal apa itu farmasi. Padahal farmasi adalah profesi yang sangat dibutuhkan.

Eksistensi farmasi dimata msyarakat, tidaklah begitu besar dibandingkan dengan eksistensi profesi dokter, dan profesi yang lainnya. Apa yang membuatnya seperti itu? mungkin keberadaan farmasi yang tidak begitu terlihat oleh masyarakat.

Inilah yang menjadi tugas bagi seorang apoteker. Dengan adanya sebuah program yang diberikan oleh pemerintah yaitu Pharmaceutical Care yaitu paradigma baru pelayanan kefarmasian yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan (health care) dan bertujuan untuk meningkatkan penggunaan obat yang rasional, aman, dan efisien demi mencapai peningkatan kualitas hidup manusia. Tujuannya adalah untuk membantu pelayanan kepada masyarakat, serta memperkenalkan farmasis kepada masyarakat. Hanya saja program ini belum terkonsep dengan baik. Kenapa program ini tidak berjalan dengan baik? Jawabannya ada pada anda sebagai seorang farmasis. Anda bisa mencitrakan profesi anda dengan ikut lebih aktif terhadap kebutuhan masyarakat, jangan hanya bekerja di belakang layar, karena jika farmasis tidak mau menampakkan dirinya kepada masyarakat dalam artian berbaur dengan masyarakat, memberikan langsung penangan obat, pemberian obat kepada masyarakat, hal yang saat ini kita rasakan tentang farmasis itu sama saja, tidak ada perubahan. Jadi salah satu perubahan yang dapat kita perbuat bagi seorang farmasis adalah berubah dari diri sendiri.

Berbicara mengenai apoteker dan dokter. Sebenarnya kedua profesi ini adalah profesi yang harus selalu berdampingan. Kenapa? Karena seorang apoteker yang paham betul tentang mekanisme obat, dan obat apa yang diperuntukkan untuk pasien, dan dokter hanya mendiagnosa pasien dan pemberian obat kepada pasien, hanyalah seorang apoteker yang dapat memberikan itu. Namun, kejadian di lapangan sangatlah berbeda dengan teorinya. Mengapa? Sering kita lihat di rumah-rumah sakit, ketika seorang pasien datang ke dokter untuk melihat kondisinya, dan setelah diperiksa dokter ini dan itu penyakitnya, dokter langsung memberikan resep kepada pasien, padahal yang berhak itu adalah seorang apoteker. Jadi seolah-olah dokter mengambil hak profesi dari apoteker.

Inilah pandangan yang seharusnya kita rubah, mengapa hal itu bisa terjadi? Seolah-olah dokterlah pemilik kesehatan di Indonesia. Padahal ketika semua profesi kesehatan di Indonesia
menjalankan profesinya dengan baik, maka tidak ada lagi hal yang semacam itu, semua akan menjalankan profesinya masing-masing, dan akan tercipta sebuah relasi yang baik diantara profesi-profesi di dunia kesehatan Indonesia.

Jadi tugas sekarang bagi seorang farmasis untuk bisa mencitrakan profesinya adalah tanamkan pada diri kita bahwa harus ada perubahan. Baik itu perubahan dari dalam maupun dari luar berupa kondisi di lapangan dan pengaruh pemerintah. Sebuah perubahan itu akan tercipta dari diri kita, jika memang ada niat yang besar, tekad yang kuat dan langkah yang tepat, jangan sampai langkah-langkah yang kita ambil tidak ada artinya bagi diri kita dan untuk profesi kita.

No comments:

Post a Comment