Oleh: Amrianto
Keberadaan farmasi di zaman sekarang kian hari kian
meningkat, mungkin hanya dari data kuantitatifnya, namun dari data
kualitatifnya tidak ada perubahan yang signifikan. Hanya sebagian besar
masyarakat mengenal apa itu farmasi. Padahal farmasi adalah profesi yang sangat
dibutuhkan.
Eksistensi farmasi dimata msyarakat, tidaklah begitu
besar dibandingkan dengan eksistensi profesi dokter, dan profesi yang lainnya.
Apa yang membuatnya seperti itu? mungkin keberadaan farmasi yang tidak begitu
terlihat oleh masyarakat.
Inilah yang menjadi tugas bagi seorang apoteker. Dengan
adanya sebuah program yang diberikan oleh pemerintah yaitu Pharmaceutical Care
yaitu paradigma baru pelayanan kefarmasian yang merupakan bagian dari pelayanan
kesehatan (health care) dan bertujuan untuk meningkatkan penggunaan obat yang
rasional, aman, dan efisien demi mencapai peningkatan kualitas hidup manusia. Tujuannya
adalah untuk membantu pelayanan kepada masyarakat, serta memperkenalkan
farmasis kepada masyarakat. Hanya saja program ini belum terkonsep dengan baik.
Kenapa program ini tidak berjalan dengan baik? Jawabannya ada pada anda sebagai
seorang farmasis. Anda bisa mencitrakan profesi anda dengan ikut lebih aktif
terhadap kebutuhan masyarakat, jangan hanya bekerja di belakang layar, karena
jika farmasis tidak mau menampakkan dirinya kepada masyarakat dalam artian
berbaur dengan masyarakat, memberikan langsung penangan obat, pemberian obat
kepada masyarakat, hal yang saat ini kita rasakan tentang farmasis itu sama
saja, tidak ada perubahan. Jadi salah satu perubahan yang dapat kita perbuat
bagi seorang farmasis adalah berubah dari diri sendiri.
Berbicara mengenai apoteker dan dokter. Sebenarnya kedua
profesi ini adalah profesi yang harus selalu berdampingan. Kenapa? Karena
seorang apoteker yang paham betul tentang mekanisme obat, dan obat apa yang
diperuntukkan untuk pasien, dan dokter hanya mendiagnosa pasien dan pemberian
obat kepada pasien, hanyalah seorang apoteker yang dapat memberikan itu. Namun,
kejadian di lapangan sangatlah berbeda dengan teorinya. Mengapa? Sering kita
lihat di rumah-rumah sakit, ketika seorang pasien datang ke dokter untuk melihat
kondisinya, dan setelah diperiksa dokter ini dan itu penyakitnya, dokter
langsung memberikan resep kepada pasien, padahal yang berhak itu adalah seorang
apoteker. Jadi seolah-olah dokter mengambil hak profesi dari apoteker.
Inilah pandangan yang seharusnya kita rubah, mengapa hal
itu bisa terjadi? Seolah-olah dokterlah pemilik kesehatan di Indonesia. Padahal
ketika semua profesi kesehatan di Indonesia
menjalankan
profesinya dengan baik, maka tidak ada lagi hal yang semacam itu, semua akan
menjalankan profesinya masing-masing, dan akan tercipta sebuah relasi yang baik
diantara profesi-profesi di dunia kesehatan Indonesia.
Jadi tugas sekarang bagi seorang farmasis untuk bisa
mencitrakan profesinya adalah tanamkan pada diri kita bahwa harus ada perubahan.
Baik itu perubahan dari dalam maupun dari luar berupa kondisi di lapangan dan
pengaruh pemerintah. Sebuah perubahan itu akan tercipta dari diri kita, jika
memang ada niat yang besar, tekad yang kuat dan langkah yang tepat, jangan
sampai langkah-langkah yang kita ambil tidak ada artinya bagi diri kita dan
untuk profesi kita.

No comments:
Post a Comment