By : Jabal rachmat Hidayatullah
#1.
Perutku serasa sedang bernyanyi seriosa pagi ini, tandanya dia sudah
kelaparan dan meminta untuk diisi ulang. Aku melongo keluar jendela
kamar kostku yang sempit, tak ada apa-apa di luar, mataku kini beraksi
memeriksa keadaan di luar sana. Akhirnya, aku dapat melihat seorang
penjual nasi kuning yang ternyata dengan semangatnya telah menggelar
dagangannya pagi itu.
**Aku menarik jaket merah kesukaanku,
kemudian aku segera bergegas mencari dimana penjual nasi kuning yang
kulihat melalui jendela kamar kostku tadi. Akhirnya kudapati si penjual
nasi kuning tersebut. Sesampainya disana, tanpa banyak berbasa basi,
aku segera memesan sepirin nasi kuning dan kuputuskan untuk makan disana
karena kupikir masih terlalu pagi untuk terburu-buru ke kampus.
**Kulihat ibu penjual nasi kuning tersebut, pakaiannya begitu sederhana, hanyalah daster dan dengan memakai sandal jepit biasa begitupun dengan warungnya, begitu sederhana dan dari wajahnya dapat kutebak bahwa usianya mungkin telah mencapai kepala 6. Tapi perutku membuat mataku kehilangan ketajamannya dan memaksaku untuk segera saja memesan sepiring nasi kuning pada ibu penjual nasi kuning tersebut.
**Ketika aku sedang lahapnya makan ketika seorang anak muda yang mungkin saja seusiaku yang dengan kemeja merk ternama dan memakai celana jeans merk yang terkenal pula. Dalam pikiranku, si pemuda tersebut pastinya ingin membeli masakan ibu ini. Akan tetapi, aku melihat pemandangan yang di luar perkiraanku. Ternyata si pemuda tadi meminta uang pada ibu tersebut dan akupun dapat menyimpulkan bahwa pemuda tersebut adalah anak ibu penjual nasi kuning tersebut. Si anak berlalu pergi, mungkin pergi kuliah pikirku.
**Aku kemudian merenungkan pemandangan yang ada di depan mataku dan dapat kusimpulkan bahwa, orang tua, bagaimanapun dia, dia akan selalu berusaha untuk mengalahkan egonya demi anaknya. Menahan dirinya dari barang mahal dan indah yang dia idamkan hanya karena anaknya butuh sesuatu hal lain. Bagaimanapun itu, orang tua akan selalu berusaha demi anaknya. Tanpa pernah memedulikan dirinya akan selalu berusaha agar anaknya bisa lebih dari dia. Berharap agar sang dapat hidup lebih dari dia. Tanpa alas an yang spesifik, hanya berbekal satu alasan, CINTA.
#2. Di siang terik ini, aku membuka bekalku di pinggiran sebuah masjid tempatku shalat tadi. Sebuah bekal yang kubeli tadi dari seorang ibu tua yang ada di kantin kampusku, nasi kuning lengkap dengan ikan goreng dan ayam goreng yang membuat perutku segera keroncongan.
**Aku dengan lahap makan bekalku siang ini, ayamku kuhabiskan hingga sissa tulangnya saja, begitupun dengan ikan gorengnya. Nasinya pun telah tandas kuhabiskan. Akupun mengumpulkan tulang-tulang tadi dan membuangnya begitu saja. Tiba-tiba terdengar suara kucing yang ternyata menuju tulang telah aku buang tadi, aku terpana, saat melihat seekor kucing dengan ukuran yang lebih besar mengambil bekas tulang ayam yang aku makan tadi dengan mulutnya yang ternyata dia berikan pada seekor kucing kecil lain yang ada di belakang masjid.
**Aku terperangah dengan kejadian itu, aku tak menyangka binatang yang dikenal tak memiliki akal pikiran ternyata juga diberi insting untuk saling memberi. Aku tak yakin bila si kucing besar tadi adalah induk si kucing kecil karena memiliki pola dan warna bulu berbeda. Kusimpulkan bahwa untuk saling memberi itu tak perlu harus mengenai siapa kita dan siapa yang akan kita beri, yang terpenting bahwa dia membutuhkan hal itu.
#3. Aku kembali datang ke warung nasi kuning yang tempo hari. Tapi kali ini bukan untuk sarapan sepertinya, karena sekarang sudah menunjukkan hampir jam 11 siang. Karena kebetulan hari ini aku tak memiliki jadwal kuliah maupun kegiatan laboratorium sama sekali. Hari ini, ada kejadian langka yang aku lihat.Seseorang pemuda dengan pakaian necis, dengan style yang bisa dikatakan menunjukkan bahwa di adalah orang yang berada apalagi ditambah dia mengendarai motor dengan merk ternama. Mungkin dia sudah kelaparan, pikirku.
**Aku memesan makanan pada ibu penjaga warung yang sudah mulai akrab denganku karena aku sering makan disini karena harganya yang manusiawi bagi mahasiswa dan juga dekat dengan kost tempatku tinggal. Di luar kulihat seorang pengemis tua dengan wajah memelas sedang duduk di depan sana, sepertinya dia kelaparan. Aku tak segera menghabiskan makananku, tapi aku sibuk mengutak atik laptopku untuk memeriksa anime yang baru saja ku-copy dari temanku.
**Kulihat si pemuda sudah beres dengan makanannya dan di beranjak membayar makanannya pada ibu penjaga warung. Kulihat si pemuda mengeluarkan uang pecahan besar, si ibu itu pun kebingungan untuk mengembalikan uang tersebut. Dia pun mendekatiku, sepertinya mencari uang kecil untuk menukar uang si pemuda tadi. Segera kukeluarkan uangku dengan pecahan lebih kecil untuk menukar uang tersebut. Sempat aku bertanya kepada ibu tersebut apakah si pemuda tersebut tidak memiliki uang pecahan lain. Si ibu menjawab bahwa si pemuda itu hanya memiliki uang dengan pecahan besar dan banyak di dompetnya.
**Kuperhatikan si pemuda itu keluar, dia melihat ke arah si pengemis tua di depan warung. Dia melihat kembali dompetnya. Sepertinya dia ingin memberi uang kepada si pengemis tadi, tapi ternyata entah kenapa si pemuda tersebut mengurungkan niatnya. Tak lama kemudian, si ibu penjaga warung keluar sembari membawa sepiring nasi kuning buatannya kepada si pengemis tua tadi. Si pengemis itupun tersenyum dan tampaknya sangat berterima kasih pada si ibu panjaga warung tersebut. Aku bertanya pada si ibu penjaga warung “Kenapa harus dikasih bu ?? kan ibu bisa dapat uang lebih dari nasi tadi”. Si ibu menjawab dengan tersenyum “Nak, hidup itu harus saling berbagi. Tak peduli siapapun yang kau tempati berbagi. Karena manusia itu hidup bersama nak. Tidak hidup sendiri. Dan berbagi itu tak melulu semata soal memberi uang. Bahkan tersenyum pada orang pun termasuk berbagi”. Aku hanya bisa mangut-mangut tanda mengerti.
**Hari ini, kupetik pelajaran dari si pemuda dan si ibu bahwa memberi itu tak haruslah dalam bentuk uang. Memberi itu bisa saja hanya dengan senyuman karena senyuman itu termasuk sedekah. Selesai aku makan aku singgah di pengemis tadi dan ah sudahlah, tak perlu kuceritakan.
**Kulihat ibu penjual nasi kuning tersebut, pakaiannya begitu sederhana, hanyalah daster dan dengan memakai sandal jepit biasa begitupun dengan warungnya, begitu sederhana dan dari wajahnya dapat kutebak bahwa usianya mungkin telah mencapai kepala 6. Tapi perutku membuat mataku kehilangan ketajamannya dan memaksaku untuk segera saja memesan sepiring nasi kuning pada ibu penjual nasi kuning tersebut.
**Ketika aku sedang lahapnya makan ketika seorang anak muda yang mungkin saja seusiaku yang dengan kemeja merk ternama dan memakai celana jeans merk yang terkenal pula. Dalam pikiranku, si pemuda tersebut pastinya ingin membeli masakan ibu ini. Akan tetapi, aku melihat pemandangan yang di luar perkiraanku. Ternyata si pemuda tadi meminta uang pada ibu tersebut dan akupun dapat menyimpulkan bahwa pemuda tersebut adalah anak ibu penjual nasi kuning tersebut. Si anak berlalu pergi, mungkin pergi kuliah pikirku.
**Aku kemudian merenungkan pemandangan yang ada di depan mataku dan dapat kusimpulkan bahwa, orang tua, bagaimanapun dia, dia akan selalu berusaha untuk mengalahkan egonya demi anaknya. Menahan dirinya dari barang mahal dan indah yang dia idamkan hanya karena anaknya butuh sesuatu hal lain. Bagaimanapun itu, orang tua akan selalu berusaha demi anaknya. Tanpa pernah memedulikan dirinya akan selalu berusaha agar anaknya bisa lebih dari dia. Berharap agar sang dapat hidup lebih dari dia. Tanpa alas an yang spesifik, hanya berbekal satu alasan, CINTA.
#2. Di siang terik ini, aku membuka bekalku di pinggiran sebuah masjid tempatku shalat tadi. Sebuah bekal yang kubeli tadi dari seorang ibu tua yang ada di kantin kampusku, nasi kuning lengkap dengan ikan goreng dan ayam goreng yang membuat perutku segera keroncongan.
**Aku dengan lahap makan bekalku siang ini, ayamku kuhabiskan hingga sissa tulangnya saja, begitupun dengan ikan gorengnya. Nasinya pun telah tandas kuhabiskan. Akupun mengumpulkan tulang-tulang tadi dan membuangnya begitu saja. Tiba-tiba terdengar suara kucing yang ternyata menuju tulang telah aku buang tadi, aku terpana, saat melihat seekor kucing dengan ukuran yang lebih besar mengambil bekas tulang ayam yang aku makan tadi dengan mulutnya yang ternyata dia berikan pada seekor kucing kecil lain yang ada di belakang masjid.
**Aku terperangah dengan kejadian itu, aku tak menyangka binatang yang dikenal tak memiliki akal pikiran ternyata juga diberi insting untuk saling memberi. Aku tak yakin bila si kucing besar tadi adalah induk si kucing kecil karena memiliki pola dan warna bulu berbeda. Kusimpulkan bahwa untuk saling memberi itu tak perlu harus mengenai siapa kita dan siapa yang akan kita beri, yang terpenting bahwa dia membutuhkan hal itu.
#3. Aku kembali datang ke warung nasi kuning yang tempo hari. Tapi kali ini bukan untuk sarapan sepertinya, karena sekarang sudah menunjukkan hampir jam 11 siang. Karena kebetulan hari ini aku tak memiliki jadwal kuliah maupun kegiatan laboratorium sama sekali. Hari ini, ada kejadian langka yang aku lihat.Seseorang pemuda dengan pakaian necis, dengan style yang bisa dikatakan menunjukkan bahwa di adalah orang yang berada apalagi ditambah dia mengendarai motor dengan merk ternama. Mungkin dia sudah kelaparan, pikirku.
**Aku memesan makanan pada ibu penjaga warung yang sudah mulai akrab denganku karena aku sering makan disini karena harganya yang manusiawi bagi mahasiswa dan juga dekat dengan kost tempatku tinggal. Di luar kulihat seorang pengemis tua dengan wajah memelas sedang duduk di depan sana, sepertinya dia kelaparan. Aku tak segera menghabiskan makananku, tapi aku sibuk mengutak atik laptopku untuk memeriksa anime yang baru saja ku-copy dari temanku.
**Kulihat si pemuda sudah beres dengan makanannya dan di beranjak membayar makanannya pada ibu penjaga warung. Kulihat si pemuda mengeluarkan uang pecahan besar, si ibu itu pun kebingungan untuk mengembalikan uang tersebut. Dia pun mendekatiku, sepertinya mencari uang kecil untuk menukar uang si pemuda tadi. Segera kukeluarkan uangku dengan pecahan lebih kecil untuk menukar uang tersebut. Sempat aku bertanya kepada ibu tersebut apakah si pemuda tersebut tidak memiliki uang pecahan lain. Si ibu menjawab bahwa si pemuda itu hanya memiliki uang dengan pecahan besar dan banyak di dompetnya.
**Kuperhatikan si pemuda itu keluar, dia melihat ke arah si pengemis tua di depan warung. Dia melihat kembali dompetnya. Sepertinya dia ingin memberi uang kepada si pengemis tadi, tapi ternyata entah kenapa si pemuda tersebut mengurungkan niatnya. Tak lama kemudian, si ibu penjaga warung keluar sembari membawa sepiring nasi kuning buatannya kepada si pengemis tua tadi. Si pengemis itupun tersenyum dan tampaknya sangat berterima kasih pada si ibu panjaga warung tersebut. Aku bertanya pada si ibu penjaga warung “Kenapa harus dikasih bu ?? kan ibu bisa dapat uang lebih dari nasi tadi”. Si ibu menjawab dengan tersenyum “Nak, hidup itu harus saling berbagi. Tak peduli siapapun yang kau tempati berbagi. Karena manusia itu hidup bersama nak. Tidak hidup sendiri. Dan berbagi itu tak melulu semata soal memberi uang. Bahkan tersenyum pada orang pun termasuk berbagi”. Aku hanya bisa mangut-mangut tanda mengerti.
**Hari ini, kupetik pelajaran dari si pemuda dan si ibu bahwa memberi itu tak haruslah dalam bentuk uang. Memberi itu bisa saja hanya dengan senyuman karena senyuman itu termasuk sedekah. Selesai aku makan aku singgah di pengemis tadi dan ah sudahlah, tak perlu kuceritakan.

No comments:
Post a Comment