Monday, 16 March 2015

Pemimpin : “IYA”, bukan tentang “Yang Seharusnya IYA”

Oleh: Diana Fitria



PEMIMPIN, Satu kata yang tersusun dari rangkaian huruf, kata sederhana namun melahirkan suatu makna yang diagung-agungkan. Pemimpin ini adalah sosok yang didengarkan, bukan tentang yang “seharusnya” didengarkan. Mutlaknya pemimpin bersifat representatif, bukan tentang yang “sengaja” di-representatifkan. Harus diakui, representatif dalam suatu kelompok bukanlah hal yang mudah.


“I cannot trust a man to control others who cannot control himself” (Robert E.Lee)

Dalam awalan yang sederhana, kita tidak perlu menjadi sosok yang berdiri tegap di hadapan semua orang dan berteriak untuk dipilih. Misalnya, seperti para penerus bangsa yang dalam periode lima tahun sekali akan mengotori semua telinga masyarakat dengan janji

“manisnya”, namun hanya sekitar 10% yang mereka ingat. Miris sekali bangsa ini. Apakah sosok seperti ini bisa kita sebut sebagai pemimpin?

“To be able to lead others, a man must be willing to go forward alone”

(Harry Truman)

Coba hayati dan bandingkan dengan kondisi para pemimpin kita saat ini. Adakah di antara mereka yang berani maju membuktikan dirinya sendiri tanpa embel-embel berupa dukungan yang pasti dari para parlemennya? Jelas tidak, dominan dari mereka takut maju jika mereka tahu semua hanya sia-sia dan merugikan.

Harus kita akui, tipe-tipe pemimpin seperti inilah yang sedang merajalela di seluruh pelosok Indonesia. Pemimpin yang dari awal hanya memikirkan dirinya sendiri, memikirkan title yang akan mereka sandang ketika terpilih, memikirkan berapa banyak upah yang dapat mereka peroleh setelah datang dan duduk memenuhi panggilan rapat, seberapa eksis mereka ketika media mengagung-agungkan nama mereka sebagai orang-orang yang “katanya” hebat karena terpilih.

Coba tanyakan pada bangsa yang luar biasa terpuruk ini. Coba tanyakan kepada mereka yang selalu menolak namun apa daya harus berkata “iya” karena tak memiliki andil untuk menentang apa yang tidak mereka sukai. Coba tanyakan kepada mereka yang selalu menjadi korban dalam setiap aturan-aturan baru yang “katanya” adalah terobosan terbaik dari para wakil-wakil rakyat. Pemimpin yang saling mengeritik satu sama lain untuk menjatuhkan, bukan untuk memperbaiki. Sungguh, sangat jauh dari sikap profesionalitas.


“Banyak sekali orang yang memiliki ide bagaimana orang lain harus berubah. Tetapi sedikit sekali orang yang memiliki ide bagaimana dirinya sendiri harus berubah”

(Leo Tolstoy)

Inikah pemimpin yang kita harapkan? Inikah pemimpin yang saat ini duduk mewakili suara-suara rakyatnya? Inikah sosok pemimpin bangsa yang besar ini? Sungguh bangsa yang malang. Iya, malang dari sumber daya manusianya, malang dari karakter manusianya, malang dari karakter pemimpinnya, dan malang dari karakter masyarakatnya pula. Jelas, masyarakat yang pura-pura buta, pura-pura tuli, dan pura-pura bisu. Mata hati pemimpin yang tertutup komplit dengan kepedulian masyarakat yang minim.

“The boss says, “GO!” and the leader says, “let’s go!” (Gordon Selfridge)

Jelas sangat berbeda. Dua orang yang sama-sama didengarkan orang banyak, dua jabatan yang sama-sama memengaruhi orang lain. Namun, berbeda dalam tindakan dan moralnya. Seorang pemimpin yang kompeten, akan menghimpun masyarakatnya untuk jalan beriringan, saling menggenggam satu sama lain. Seorang pemimpin yang ideal akan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya di pundak mereka sebagai suatu kewajiban yang mereka pikul dan pertangggungjawabkan. Iya, dua makna yang harus ditanamkan pada mereka yang sebentar lagi akan menjadi penerus bangsa. Tradisi boleh ada, tapi bukan berarti kita hanya mengikuti pola alur kepemimpinan bangsa tanpa memikirkan terebosan yang lebih bijak. Mari ubah paradigma itu, mari ubah sistem yang turun-temurun kita pada kata demokratis yang selalu kita agung-agungkan, bukan hanya tunduk pada pilihan wakil rakyat yang masih dipertanyakan keberpihakannya. Berhentilah untuk bermimpi, wujudkan dalam tindakan.

Berhentilah untuk selalu berangan dan mengatakan “seharusnya begini, seharusnya begitu”, cukup dengan meng-iya-kan segala pengharapan terbaik, “iya” untuk segala perubahan yang demokratis.



No comments:

Post a Comment