Oleh: Diana Fitria
PEMIMPIN, Satu kata yang tersusun dari rangkaian huruf, kata sederhana namun melahirkan
suatu makna yang diagung-agungkan. Pemimpin ini adalah sosok yang didengarkan,
bukan tentang yang “seharusnya” didengarkan. Mutlaknya pemimpin bersifat
representatif, bukan tentang yang “sengaja” di-representatifkan. Harus diakui,
representatif dalam suatu kelompok bukanlah hal yang mudah.
“I cannot trust a man to control others who cannot
control himself” (Robert E.Lee)
Dalam
awalan yang sederhana, kita tidak perlu menjadi sosok yang berdiri tegap di
hadapan semua orang dan berteriak untuk dipilih. Misalnya, seperti para penerus
bangsa yang dalam periode lima tahun sekali akan mengotori semua telinga
masyarakat dengan janji
“manisnya”, namun hanya sekitar 10%
yang mereka ingat. Miris sekali bangsa ini. Apakah sosok seperti ini bisa kita
sebut sebagai pemimpin?
“To be able to lead others, a man must be willing to go
forward alone”
(Harry Truman)
Coba hayati
dan bandingkan dengan kondisi para pemimpin kita saat ini. Adakah di antara
mereka yang berani maju membuktikan dirinya sendiri tanpa embel-embel berupa
dukungan yang pasti dari para parlemennya? Jelas tidak, dominan dari mereka
takut maju jika mereka tahu semua hanya sia-sia dan merugikan.
Harus kita
akui, tipe-tipe pemimpin seperti inilah yang sedang merajalela di seluruh
pelosok Indonesia. Pemimpin yang dari awal hanya memikirkan dirinya sendiri,
memikirkan title yang akan mereka sandang ketika terpilih, memikirkan berapa
banyak upah yang dapat mereka peroleh setelah datang dan duduk memenuhi
panggilan rapat, seberapa eksis mereka ketika media mengagung-agungkan nama
mereka sebagai orang-orang yang “katanya” hebat karena terpilih.
Coba
tanyakan pada bangsa yang luar biasa terpuruk ini. Coba tanyakan kepada mereka
yang selalu menolak namun apa daya harus berkata “iya” karena tak memiliki
andil untuk menentang apa yang tidak mereka sukai. Coba tanyakan kepada mereka
yang selalu menjadi korban dalam setiap aturan-aturan baru yang “katanya”
adalah terobosan terbaik dari para wakil-wakil rakyat. Pemimpin yang saling
mengeritik satu sama lain untuk menjatuhkan, bukan untuk memperbaiki. Sungguh,
sangat jauh dari sikap profesionalitas.
“Banyak
sekali orang yang memiliki ide bagaimana orang lain harus berubah. Tetapi
sedikit sekali orang yang memiliki ide bagaimana dirinya sendiri harus berubah”
(Leo
Tolstoy)
Inikah
pemimpin yang kita harapkan? Inikah pemimpin yang saat ini duduk mewakili
suara-suara rakyatnya? Inikah sosok pemimpin bangsa yang besar ini? Sungguh
bangsa yang malang. Iya, malang dari sumber daya manusianya, malang dari
karakter manusianya, malang dari karakter pemimpinnya, dan malang dari karakter
masyarakatnya pula. Jelas, masyarakat yang pura-pura buta, pura-pura tuli, dan
pura-pura bisu. Mata hati pemimpin yang tertutup komplit dengan kepedulian
masyarakat yang minim.
“The
boss says, “GO!” and the leader says, “let’s go!” (Gordon Selfridge)
Jelas
sangat berbeda. Dua orang yang sama-sama didengarkan orang banyak, dua jabatan
yang sama-sama memengaruhi orang lain. Namun, berbeda dalam tindakan dan
moralnya. Seorang pemimpin yang kompeten, akan menghimpun masyarakatnya untuk
jalan beriringan, saling menggenggam satu sama lain. Seorang pemimpin yang
ideal akan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya di pundak mereka sebagai
suatu kewajiban yang mereka pikul dan pertangggungjawabkan. Iya, dua makna yang
harus ditanamkan pada mereka yang sebentar lagi akan menjadi penerus bangsa.
Tradisi boleh ada, tapi bukan berarti kita hanya mengikuti pola alur
kepemimpinan bangsa tanpa memikirkan terebosan yang lebih bijak. Mari ubah
paradigma itu, mari ubah sistem yang turun-temurun kita pada kata demokratis
yang selalu kita agung-agungkan, bukan hanya tunduk pada pilihan wakil rakyat
yang masih dipertanyakan keberpihakannya. Berhentilah untuk bermimpi, wujudkan
dalam tindakan.
Berhentilah untuk selalu berangan dan
mengatakan “seharusnya begini, seharusnya begitu”, cukup dengan meng-iya-kan
segala pengharapan terbaik, “iya” untuk segala perubahan yang demokratis.
No comments:
Post a Comment