Sunday, 29 March 2015

"Love in Roma"



By : Nur Rahmah Masda

Kumasukkan sandi apartemenku lalu masuk ke dalam setelah pintunya terbuka. Aku tersenyum memandang sosok yang tertidur di sofa ungu ruang tamu. Lelaki tampan yang berstatus kakakku, kakak tiriku lebih tepatnya. Lucas Hamilton. Dia selalu seperti ini. Menunggu ku pulang ke rumah. Percayalah, aku benar-benar beruntung memiliki kakak seperti dia. Dia menyayangiku, bahkan bisa dibilang sangat menyayangiku. Sebenarnya aku tidak tega membangunkannya, tidurnya terlihat sangat pulas. Tapi, jika kubiarkan saat bangun dipagi hari seluruh tubuhnya pasti pegal-pegal. Ahh baiklah. Kuletakkan perlengkapan melukisku disamping rak sepatu lalu melangkah menghampiri kakakku tercinta.


“Lucas, wake up. Aku sudah  pulang, pindahlah ke kamarmu.” Ku goncangkan bahu kokoh miliknya. Dia menggeliat pelan lalu kelopak matanya terbuka. Iris hijau miliknya menatapku pasti. Senyum terkembang dibibir tipisnya.

“Ayo kita makan malam bersama, aku sudah menyiapkan semuanya.” Tanpa menunggu jawabanku, dia menarik tanganku menuju ke ruang makan. Menarikkan kursi untukku lalu duduk dihadapanku. Aku menatapnya penuh syukur. Meski pun Ayah Lucas dan Ibu ku telah meninggalkan kami 3 tahun yang lalu karena kecelakaan mengenaskan dalam perjalanan ke Roma, aku merasa tidak kehilangan kasih sayang. Lucas selalu ada untukku. Tiap malam sebelum tidur aku selalu berdoa untuk kebahagiaannya.

“Ayo dimakan, jangan melamun. Apa kau sakit?” Lihatkan betapa perhatiannya dia.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan betapa beruntungnya aku menjadi adikmu.” Aku lalu menyendok masakan Cina yang tersaji dipiringku dengan senang hati. 

“Besok bisakah kau menemaniku menghadiri pesta dalam rangka ulang tahun perusahaan?” bisa kutangkap pandangan penuh harapnya padaku. Aku tersenyum padanya. Aku belum menggodanya seharian ini.

“Apa keuntungan yang akan kudapatkan jika aku menemanimu?” tanyaku antusias.
“Akan kukabulkan satu permintaanmu. Apapun itu asal masuk akal dan aku bisa menepatinya. Bagaimana? Deal?” Lucas lalu menjulurkan jari kelingkingnya dihadapanku. Satu permintaan ? Cukup adil untuk menghadiri sebuah pesta membosankan. Padahal tadi aku hanya menggodanya. Tapi ya sudahlah.

“Deal.” kusambut dengan mengaitkan jari kelingking kami.
“Baiklah little bunny, selamat tidur sayang.” Beginilah ritual sebelum tidurku, Lucas akan mengantarku ke kamarku. Mengucapkan selamat tidur spesial darinya, mengecup  keningku, mematikan lampu kamarku lalu melangkah menuju kamar miliknya. Setiap ada kesempatan, aku selalu menegurnya untuk berhenti menungguku pulang kerumah. Aku tahu bagaimana sibuknya dia di kantor. Aku selalu memberitahunya aku tidak pulang teratur, bisa sangat sore bahkan tengah malam tapi dia tetap ngotot.

“Aku tidak bisa tidur dengan nyaman dikamarku sebelum aku memastikan kau tidur dengan nyaman di kamarmu.” Begitulah yang selalu dia ucapkan dan itulah alasan aku selalu mengalah padanya.
***
Seperti pesta khas kelas atas. Aula salah satu hotel ternama di kota Roma telah berubah menjadi sangat indah dan sangat pas disebut pesta. Lucas, tentu saja terlihat tampan dengan setelan hitamnya, dengan dasi biru yang senada dengan gaunku. Gaun yang panjangnya sedikit di atas lutut dengan desain sederhana tanpa lengan berbahan tipis sehingga terasa ringan. Sepanjang pesta, aku selalu bersama Lucas, masalahnya dia menaruh tangannya dipinggangku erat. Hanya melepasnya saat dia harus bersalaman dengan orang lain. Sebenarnya aku tidak masalah bersama Lucas terus, karena jika bersama dengannya aku selalu merasa aman dan terlindungi, tapi disini aku malas menyapa orang yang tidak kukenal, terutama meraka yang sangat angkuh dengan perhiasaan emasnya, memamerkannya disana sini. Aku tidak suka keramaian yang mengintimidasi. Itulah kenapa aku melukis pemandangan, bukan orang.

Selain itu, aku juga menyadari pandangan menusuk para gadis dibelakangku. Aku tahu meraka sangat iri padaku, menempel pada Lucas setiap saat. Itulah yang menggangguku, mereka memperhatikanku. Aku tidak nyaman. 

“Kau mulai bosan.” Lucas berbisik ditelinga kiriku. Terima kasih Tuhan.
“Tentu saja, kapan kita ke luar dari tempat penuh kepalsuan ini?” bisikku padanya. Untungnya aku memakai hak setinggi 4 inchi, aku sudah bisa mencapai telinganya. Dia terkikik, pasti karena julukan yang kuberikan pada tempat ini.

“Sebentar sayang, aku belum bertemu sahabatku.Ah.. dia sudah datang, dia menuju ke arah kita sekarang.” Dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku lalu mengikuti arah pandangnya. Dan waktu seakan berhenti berjalan beberapa detik saat pandangan kami bertemu. Sial. 

“Erlin, ini sahabatku Romeo Weddens. Romeo perkenalkan adikku Erlinadea Alexandra.” Lucas memperkenalkan kami sambil tersenyum lebar. Romeo yang mengambil inisiatif mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Aku lalu menyambutnya dengan gugup. Tanganku seperti mati rasa. Aku yang melepaskan tanganku pertama kali. Tersenyum kikuk.

“Aku rasa aku butuh untuk ke toilet sekarang.” Akhirnya dengan perdebatan alot dengan tatapan mata memelas milikku, Lucas akhirnya mengalah dan membiarkan aku pergi sendiri. Inilah pertama kalinya aku berjalan sendiri. Aku benar-benar berterima kasih pada TUhan karena telah menciptakan toilet. Ditempat itu aku bisa bersembunyi dari dua hal menakutkan. Jangan bertanya siapa lelaki tadi. Aku sungguh tidak ingin membahasnya.
Aku keluar dari toilet 10 menit kemudian, cukup untuk bersembunyi. Sekarang hanya tinggal mencari Lucas dan mengajaknya pulang ke apartemen kami yang aman.

“Kau belum berubah sama sekali.” Aku menoleh mendengar suara itu. Romeo menungguku didepan toilet. AKu diam, enggan menanggapinya. 

“Lari menyelamatkan diri saat merasa sedikit terancam. Dengan cepat mencari perlindungan.” Aku menoleh menatapnya tajam. Beradu dengan iris coklatnya. Selalu seperti ini. Terhipnotis olehnya. Tanpa bisa menolak, dia menarikku berlari. Dia lalu membuka sebuah pintu, pintu darurat mungkin. Aku tidak ada waktu untuk mencari tahu, yang aku pedulikan saat ini adalah bagaimana lepas dari orang gila ini. Secepat mungkin. Kami kemudian menaiki beberapa anak tangga hingga lantai keempat mungkin, jika aku tidak salah hitung. Dia berhenti berlari, begitupula aku. Tapi dia masih mencengkram pergelangan tanganku.

“Apa yang kau lakukan? Lucas akan mencariku, bodoh!” aku ingin memakinya sepanjang-panjangnya tapi hanya kalimat itu yang dikeluarkan pita suaraku.

“Persetan dengan Lucas, ini mungkin satu-satunya kesempatan bagiku untuk bertemu lagi denganmu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.” Suaranya terdengar sedikit serak.

“Aku tidak mengerti dan aku tidak mau tahu menahu tentangmu. Sekarang lepaskan aku, aku ingin pulang.” Bentakku padanya. Sial. Disini sangat sepi. Tentu saja, semua orang berpesta.

“Aku benar-benar tidak menyangka kau sekarang tinggal di Italia, aku mencarimu di seluruh kota San Fransisco –USA. Kau tahu?” Sepertinya dia marah besar.Hell. Bukankah seharusnya yang marah disini itu aku?

“Aku tidak peduli, aku juga tidak pernah menyuruhmu untuk mencariku. Bisakah kita bertingkah seperti orang yang baru mengenal saja? Itu lebih baik untuk semua orang.”

“Tidak! Tidak akan! Aku tidak mau! Dan itu Tidak Mungkin terjadi, Alex! Kita belum berakhir, kau milikku dan selamanya milikku.” Romeo mencengkram bahuku dengan kencang, sepertinya akan remuk sebentar lagi. Iris coklatnya benar-benar menyala sekarang, dia bukan lagi marah. Dia murka.

“Romeo, le..lepaskan ! kau menyakitiku!” Kristal bening itu menetes tak terkendali dari sudut mataku. Entahlah, apa kah ini air mata karena sakit dibahuku atau air mata yang tumpah karena aku begitu merindukan sosok dihadapanku ini, aku tak tahu.. dan aku terlalu lelah untuk mencari tahu.

“Alex! Astaga! Maafkan aku sayang!” Romeo langsung memelukku erat, mengusap punggungku. Kami terduduk dilantai, saling berpelukan. Alex, begitulah ia selalu memanggilku, semacam panggilan sayang. Hanya dia yang memanggilku begitu dan memang hanya dirinya yang boleh.

“Jangan menangis sayang, aku disini bersamamu, aku akan selalu berada disampingmu mulai saat ini.” Usapan jemari kokohnya dipunggungku malah menambah intens isak tangisku. Setelah itu, setiap kejadian setelahnya berjalan sangat cepat, Lucas datang dengan wajah memerah dan langsung menghantam rahang Romeo hingga dia tersungkur ke lantai. Aku memekik ketika melihat darah keluar dari hidung dan sudut bibir Romeo.

“Brengsek!” Lucas seperti kesetanan. Dia terus menendang dan meninju Romeo membabi buta. Aku terus berteriak padanya untuk berhenti. Tapi teriakanku bagai angin lalu bagi Lucas.
“ASTAGAAAAAAAA! YA TUHAN! LUCAS .. KU MOHON Hentikan! Kau bisa membunuhnya!” Dengan sekuat tenaga aku bangkit, dan dengan tenaga yang tersisa aku berhasil memeluk Lucas dari belakang. Gerakannya terasa berhenti. Terakhir, yang kulihat kerumunan orang datang dari lantai bawah dan semuanya gelap.
***
Aku terbangun dengan kepala pening.  Bau obat-obatan mengusik indra penciumanku. Cahaya matahari masuk melalui celah jendela. Sepertinya sudah siang. Aku terpaku menatap sosok Lucas yang tertidur dengan posisi duduk, terlihat pulas. Kulirik buku jarinya yang memar. Astaga Romeo! Dia tidak mati kan?! Hatiku benar-benar gelisah sekarang. Ya Tuhan selamatkan dia. 

“Hi little bunny is wake up.” Lucas tersenyum manis, seperti biasa. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa semalam. Tapi ini salah, sangat salah.

“Hi Lucas,  bagaimana Romeo? Dia tidak mati kan?” Lucas menunduk, menolak menatap mataku. Sial. Pandanganku mulai kabur, ini bukan saatnya menangis. Sugestiku pada diri sendiri.
“Lu.. jawab pertanyaanku” suaraku mulai terdengar serak ditelingaku sendiri.
“Dia kritis.. aku.. aku..” Pahlawanku menangis, ini pertama kalinya kulihat dia menangis. Aku langsung bangun memeluknya. Dia terisak di perutku.

“Aku benar-benar takut kehilanganmu Erlin, dia membuatmu menangis. Aku yakin dia menyakitimu. Makanya aku.. aku..”
“hushh.. jangan bicara lagi, aku mengerti. Ini sepenuhnya bukan salahmu. Ini salahku yang tidak menceritakan hal ini padamu.” Dia menegadah menatapku. Pipinya masih basah. Aku tidak ingin dia terluka dan merasa sedih. Tapi aku sendiri yang menjadi sumber kepedihannya. Dia terlihat benar-benar rapuh sekarang. Ini salahku.

“Aku mengenal Romeo, 7 tahun yang lalu saat umurku 18 tahun. Dia adalah anak yang dibawa Mr.Weddens saat dia menikah dengan Ibuku. Benar, dia juga adalah kakak tiriku, sama sepertimu, Lu.” Mata Lucas terlihat membesar, jelas dia kaget. Tak kuhiraukan ekspresi terkejutnya dan melanjutkan membuka rahasiaku.

“Waktu itu kami tinggal di San Fransisco. Dua tahun kemudian, orang tua kami bercerai. Ibuku memutuskan untuk pindah ke Roma. Sepanjang hari aku terus mencoba menghubungi Romeo yang berada di Los Angeles meneruskan pendidikannya, menanyakan bagaimana dengan hubungan kami..”

“Hubungan kalian?” nada suara Lucas terdengar pahit. Kuyakinkan hatiku untuk melanjutkan. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Tanpa sepengetahuan orang tua kami, kami saling jatuh cinta dan dia bahkan sudah melamarku.. Tapi sampai pesawat yang kutumpangi meninggalkan daratan Amerika, dia sama sekali tidak memberi kabar padaku, padahal aku sudah mengirimkan pesan bahwa aku akan terbang ke Roma. Aku menyerah dengannya, dan dia sepertinya juga tidak ingin memperjuangkan kami. Aku mengambil kesimpulan ini juga sudah berakhir. Apa yang dia janjikan hanya janji remaja yang tidak harus ditepati. Dan dengan keyakinan itu, aku memulai kehidupanku di Italia.”
***
Lucas meninggalkan kamar rawatku setelah kisahku selesai. Dan dia belum kembali, ini sudah hampir senja. Aku tidak buta, aku tahu, aku tahu karena aku sangat memahami dirinya. Lucas mencintaiku.. aku sudah lama menyadarinya. Awalnya aku tidak tahu harus bersikap seperti apa dalam menghadapinya. Tapi inilah aku, Erlin yang egois. Erlin yang selalu berlindung pada Lucas, meringkuk padanya, menerima cinta dan kasihnya dengan senang hati.

Tadi aku sempat menjenguk Romeo, keadaannya mengenaskan. Wajahnya memar dimana-mana. Aku tidak tega melihatnya. Aku membuat dua orang yang paling berarti dihidupku menderita. Aku benar-benar menyedihkan. Mereka pantas bahagia. Saat melihat Romeo semalam, aku tahu. Aku sudah memaafkannya bahkan sebelum dia memohon. 

Dengan tergesa kuraih sebuah pena dan kertas yang tadi sempat ku minta pada suster penjagaku. Kutemukan sebuah koper yang ternyata berisi beberapa potong pakaian milikku. Kupilih acak dan kupasang secepatnya. Aku harus pergi sebelum Lucas datang! Kutempelkan pesan ku pada Lucas di dinding tepat di samping tiang infus.

“Aku pergi, maafkan aku. Hiduplah dengan bahagia. Dan tolong jaga Romeo, pastikan dia sembuh. Itu tanggung  jawabmu. Adios”

Aku mengendap ke ruang rawat Romeo, dan menempel secarik kertas berisi pesan untuknya di dinding. Tulisannya sedikit kabur, karena aku menulisnya sambil menangis.

“Kau benar, Romeo. Aku tidak pernah berubah. Aku lebih memilih untuk menghindari masalah daripada menghadapinya. Kau memang selalu benar. Aku masih tetap pengecut. Sayonara”


No comments:

Post a Comment