By : Nur Rahmah Masda
Kumasukkan
sandi apartemenku lalu masuk ke dalam setelah pintunya terbuka. Aku tersenyum
memandang sosok yang tertidur di sofa ungu ruang tamu. Lelaki tampan yang
berstatus kakakku, kakak tiriku lebih tepatnya. Lucas Hamilton. Dia selalu
seperti ini. Menunggu ku pulang ke rumah. Percayalah, aku benar-benar beruntung
memiliki kakak seperti dia. Dia menyayangiku, bahkan bisa dibilang sangat
menyayangiku. Sebenarnya aku tidak tega membangunkannya, tidurnya terlihat
sangat pulas. Tapi, jika kubiarkan saat bangun dipagi hari seluruh tubuhnya
pasti pegal-pegal. Ahh baiklah. Kuletakkan perlengkapan melukisku disamping rak
sepatu lalu melangkah menghampiri kakakku tercinta.
“Lucas,
wake up. Aku sudah pulang, pindahlah ke
kamarmu.” Ku goncangkan bahu kokoh miliknya. Dia menggeliat pelan lalu kelopak
matanya terbuka. Iris hijau miliknya menatapku pasti. Senyum terkembang dibibir
tipisnya.
“Ayo
kita makan malam bersama, aku sudah menyiapkan semuanya.” Tanpa menunggu
jawabanku, dia menarik tanganku menuju ke ruang makan. Menarikkan kursi untukku
lalu duduk dihadapanku. Aku menatapnya penuh syukur. Meski pun Ayah Lucas dan
Ibu ku telah meninggalkan kami 3 tahun yang lalu karena kecelakaan mengenaskan
dalam perjalanan ke Roma, aku merasa tidak kehilangan kasih sayang. Lucas
selalu ada untukku. Tiap malam sebelum tidur aku selalu berdoa untuk
kebahagiaannya.
“Ayo
dimakan, jangan melamun. Apa kau sakit?” Lihatkan betapa perhatiannya dia.
“Tidak,
aku tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan betapa beruntungnya aku menjadi
adikmu.” Aku lalu menyendok masakan Cina yang tersaji dipiringku dengan senang
hati.
“Besok
bisakah kau menemaniku menghadiri pesta dalam rangka ulang tahun perusahaan?”
bisa kutangkap pandangan penuh harapnya padaku. Aku tersenyum padanya. Aku
belum menggodanya seharian ini.
“Apa
keuntungan yang akan kudapatkan jika aku menemanimu?” tanyaku antusias.
“Akan
kukabulkan satu permintaanmu. Apapun itu asal masuk akal dan aku bisa
menepatinya. Bagaimana? Deal?” Lucas lalu menjulurkan jari kelingkingnya
dihadapanku. Satu permintaan ? Cukup adil untuk menghadiri sebuah pesta
membosankan. Padahal tadi aku hanya menggodanya. Tapi ya sudahlah.
“Deal.”
kusambut dengan mengaitkan jari kelingking kami.
“Baiklah
little bunny, selamat tidur sayang.” Beginilah ritual sebelum tidurku, Lucas
akan mengantarku ke kamarku. Mengucapkan selamat tidur spesial darinya,
mengecup keningku, mematikan lampu
kamarku lalu melangkah menuju kamar miliknya. Setiap ada kesempatan, aku selalu
menegurnya untuk berhenti menungguku pulang kerumah. Aku tahu bagaimana
sibuknya dia di kantor. Aku selalu memberitahunya aku tidak pulang teratur,
bisa sangat sore bahkan tengah malam tapi dia tetap ngotot.
“Aku
tidak bisa tidur dengan nyaman dikamarku sebelum aku memastikan kau tidur
dengan nyaman di kamarmu.” Begitulah yang selalu dia ucapkan dan itulah alasan
aku selalu mengalah padanya.
***
Seperti
pesta khas kelas atas. Aula salah satu hotel ternama di kota Roma telah berubah
menjadi sangat indah dan sangat pas disebut pesta. Lucas, tentu saja terlihat
tampan dengan setelan hitamnya, dengan dasi biru yang senada dengan gaunku.
Gaun yang panjangnya sedikit di atas lutut dengan desain sederhana tanpa lengan
berbahan tipis sehingga terasa ringan. Sepanjang pesta, aku selalu bersama
Lucas, masalahnya dia menaruh tangannya dipinggangku erat. Hanya melepasnya
saat dia harus bersalaman dengan orang lain. Sebenarnya aku tidak masalah
bersama Lucas terus, karena jika bersama dengannya aku selalu merasa aman dan
terlindungi, tapi disini aku malas menyapa orang yang tidak kukenal, terutama
meraka yang sangat angkuh dengan perhiasaan emasnya, memamerkannya disana sini.
Aku tidak suka keramaian yang mengintimidasi. Itulah kenapa aku melukis
pemandangan, bukan orang.
Selain
itu, aku juga menyadari pandangan menusuk para gadis dibelakangku. Aku tahu
meraka sangat iri padaku, menempel pada Lucas setiap saat. Itulah yang
menggangguku, mereka memperhatikanku. Aku tidak nyaman.
“Kau
mulai bosan.” Lucas berbisik ditelinga kiriku. Terima kasih Tuhan.
“Tentu
saja, kapan kita ke luar dari tempat penuh kepalsuan ini?” bisikku padanya.
Untungnya aku memakai hak setinggi 4 inchi, aku sudah bisa mencapai telinganya.
Dia terkikik, pasti karena julukan yang kuberikan pada tempat ini.
“Sebentar
sayang, aku belum bertemu sahabatku.Ah.. dia sudah datang, dia menuju ke arah
kita sekarang.” Dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku lalu mengikuti arah
pandangnya. Dan waktu seakan berhenti berjalan beberapa detik saat pandangan
kami bertemu. Sial.
“Erlin,
ini sahabatku Romeo Weddens. Romeo perkenalkan adikku Erlinadea Alexandra.”
Lucas memperkenalkan kami sambil tersenyum lebar. Romeo yang mengambil
inisiatif mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Aku lalu
menyambutnya dengan gugup. Tanganku seperti mati rasa. Aku yang melepaskan
tanganku pertama kali. Tersenyum kikuk.
“Aku
rasa aku butuh untuk ke toilet sekarang.” Akhirnya dengan perdebatan alot
dengan tatapan mata memelas milikku, Lucas akhirnya mengalah dan membiarkan aku
pergi sendiri. Inilah pertama kalinya aku berjalan sendiri. Aku benar-benar
berterima kasih pada TUhan karena telah menciptakan toilet. Ditempat itu aku
bisa bersembunyi dari dua hal menakutkan. Jangan bertanya siapa lelaki tadi.
Aku sungguh tidak ingin membahasnya.
Aku
keluar dari toilet 10 menit kemudian, cukup untuk bersembunyi. Sekarang hanya
tinggal mencari Lucas dan mengajaknya pulang ke apartemen kami yang aman.
“Kau
belum berubah sama sekali.” Aku menoleh mendengar suara itu. Romeo menungguku
didepan toilet. AKu diam, enggan menanggapinya.
“Lari
menyelamatkan diri saat merasa sedikit terancam. Dengan cepat mencari
perlindungan.” Aku menoleh menatapnya tajam. Beradu dengan iris coklatnya.
Selalu seperti ini. Terhipnotis olehnya. Tanpa bisa menolak, dia menarikku
berlari. Dia lalu membuka sebuah pintu, pintu darurat mungkin. Aku tidak ada
waktu untuk mencari tahu, yang aku pedulikan saat ini adalah bagaimana lepas
dari orang gila ini. Secepat mungkin. Kami kemudian menaiki beberapa anak
tangga hingga lantai keempat mungkin, jika aku tidak salah hitung. Dia berhenti
berlari, begitupula aku. Tapi dia masih mencengkram pergelangan tanganku.
“Apa
yang kau lakukan? Lucas akan mencariku, bodoh!” aku ingin memakinya
sepanjang-panjangnya tapi hanya kalimat itu yang dikeluarkan pita suaraku.
“Persetan
dengan Lucas, ini mungkin satu-satunya kesempatan bagiku untuk bertemu lagi
denganmu. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.” Suaranya terdengar sedikit
serak.
“Aku
tidak mengerti dan aku tidak mau tahu menahu tentangmu. Sekarang lepaskan aku,
aku ingin pulang.” Bentakku padanya. Sial. Disini sangat sepi. Tentu saja,
semua orang berpesta.
“Aku
benar-benar tidak menyangka kau sekarang tinggal di Italia, aku mencarimu di
seluruh kota San Fransisco –USA. Kau tahu?” Sepertinya dia marah besar.Hell.
Bukankah seharusnya yang marah disini itu aku?
“Aku
tidak peduli, aku juga tidak pernah menyuruhmu untuk mencariku. Bisakah kita
bertingkah seperti orang yang baru mengenal saja? Itu lebih baik untuk semua
orang.”
“Tidak!
Tidak akan! Aku tidak mau! Dan itu Tidak Mungkin terjadi, Alex! Kita belum
berakhir, kau milikku dan selamanya milikku.” Romeo mencengkram bahuku dengan
kencang, sepertinya akan remuk sebentar lagi. Iris coklatnya benar-benar
menyala sekarang, dia bukan lagi marah. Dia murka.
“Romeo,
le..lepaskan ! kau menyakitiku!” Kristal bening itu menetes tak terkendali dari
sudut mataku. Entahlah, apa kah ini air mata karena sakit dibahuku atau air
mata yang tumpah karena aku begitu merindukan sosok dihadapanku ini, aku tak
tahu.. dan aku terlalu lelah untuk mencari tahu.
“Alex!
Astaga! Maafkan aku sayang!” Romeo langsung memelukku erat, mengusap
punggungku. Kami terduduk dilantai, saling berpelukan. Alex, begitulah ia
selalu memanggilku, semacam panggilan sayang. Hanya dia yang memanggilku begitu
dan memang hanya dirinya yang boleh.
“Jangan
menangis sayang, aku disini bersamamu, aku akan selalu berada disampingmu mulai
saat ini.” Usapan jemari kokohnya dipunggungku malah menambah intens isak
tangisku. Setelah itu, setiap kejadian setelahnya berjalan sangat cepat, Lucas
datang dengan wajah memerah dan langsung menghantam rahang Romeo hingga dia
tersungkur ke lantai. Aku memekik ketika melihat darah keluar dari hidung dan
sudut bibir Romeo.
“Brengsek!”
Lucas seperti kesetanan. Dia terus menendang dan meninju Romeo membabi buta.
Aku terus berteriak padanya untuk berhenti. Tapi teriakanku bagai angin lalu
bagi Lucas.
“ASTAGAAAAAAAA!
YA TUHAN! LUCAS .. KU MOHON Hentikan! Kau bisa membunuhnya!” Dengan sekuat
tenaga aku bangkit, dan dengan tenaga yang tersisa aku berhasil memeluk Lucas
dari belakang. Gerakannya terasa berhenti. Terakhir, yang kulihat kerumunan
orang datang dari lantai bawah dan semuanya gelap.
***
Aku
terbangun dengan kepala pening. Bau
obat-obatan mengusik indra penciumanku. Cahaya matahari masuk melalui celah
jendela. Sepertinya sudah siang. Aku terpaku menatap sosok Lucas yang tertidur
dengan posisi duduk, terlihat pulas. Kulirik buku jarinya yang memar. Astaga
Romeo! Dia tidak mati kan?! Hatiku benar-benar gelisah sekarang. Ya Tuhan
selamatkan dia.
“Hi
little bunny is wake up.” Lucas tersenyum manis, seperti biasa. Seakan tidak
pernah terjadi apa-apa semalam. Tapi ini salah, sangat salah.
“Hi
Lucas, bagaimana Romeo? Dia tidak mati
kan?” Lucas menunduk, menolak menatap mataku. Sial. Pandanganku mulai kabur,
ini bukan saatnya menangis. Sugestiku pada diri sendiri.
“Lu..
jawab pertanyaanku” suaraku mulai terdengar serak ditelingaku sendiri.
“Dia
kritis.. aku.. aku..” Pahlawanku menangis, ini pertama kalinya kulihat dia
menangis. Aku langsung bangun memeluknya. Dia terisak di perutku.
“Aku
benar-benar takut kehilanganmu Erlin, dia membuatmu menangis. Aku yakin dia
menyakitimu. Makanya aku.. aku..”
“hushh..
jangan bicara lagi, aku mengerti. Ini sepenuhnya bukan salahmu. Ini salahku
yang tidak menceritakan hal ini padamu.” Dia menegadah menatapku. Pipinya masih
basah. Aku tidak ingin dia terluka dan merasa sedih. Tapi aku sendiri yang
menjadi sumber kepedihannya. Dia terlihat benar-benar rapuh sekarang. Ini
salahku.
“Aku
mengenal Romeo, 7 tahun yang lalu saat umurku 18 tahun. Dia adalah anak yang
dibawa Mr.Weddens saat dia menikah dengan Ibuku. Benar, dia juga adalah kakak
tiriku, sama sepertimu, Lu.” Mata Lucas terlihat membesar, jelas dia kaget. Tak
kuhiraukan ekspresi terkejutnya dan melanjutkan membuka rahasiaku.
“Waktu
itu kami tinggal di San Fransisco. Dua tahun kemudian, orang tua kami bercerai.
Ibuku memutuskan untuk pindah ke Roma. Sepanjang hari aku terus mencoba
menghubungi Romeo yang berada di Los Angeles meneruskan pendidikannya,
menanyakan bagaimana dengan hubungan kami..”
“Hubungan
kalian?” nada suara Lucas terdengar pahit. Kuyakinkan hatiku untuk melanjutkan.
Sekarang atau tidak sama sekali.
“Tanpa
sepengetahuan orang tua kami, kami saling jatuh cinta dan dia bahkan sudah
melamarku.. Tapi sampai pesawat yang kutumpangi meninggalkan daratan Amerika,
dia sama sekali tidak memberi kabar padaku, padahal aku sudah mengirimkan pesan
bahwa aku akan terbang ke Roma. Aku menyerah dengannya, dan dia sepertinya juga
tidak ingin memperjuangkan kami. Aku mengambil kesimpulan ini juga sudah
berakhir. Apa yang dia janjikan hanya janji remaja yang tidak harus ditepati.
Dan dengan keyakinan itu, aku memulai kehidupanku di Italia.”
***
Lucas
meninggalkan kamar rawatku setelah kisahku selesai. Dan dia belum kembali, ini
sudah hampir senja. Aku tidak buta, aku tahu, aku tahu karena aku sangat
memahami dirinya. Lucas mencintaiku.. aku sudah lama menyadarinya. Awalnya aku
tidak tahu harus bersikap seperti apa dalam menghadapinya. Tapi inilah aku,
Erlin yang egois. Erlin yang selalu berlindung pada Lucas, meringkuk padanya,
menerima cinta dan kasihnya dengan senang hati.
Tadi
aku sempat menjenguk Romeo, keadaannya mengenaskan. Wajahnya memar dimana-mana.
Aku tidak tega melihatnya. Aku membuat dua orang yang paling berarti dihidupku
menderita. Aku benar-benar menyedihkan. Mereka pantas bahagia. Saat melihat
Romeo semalam, aku tahu. Aku sudah memaafkannya bahkan sebelum dia
memohon.
Dengan
tergesa kuraih sebuah pena dan kertas yang tadi sempat ku minta pada suster
penjagaku. Kutemukan sebuah koper yang ternyata berisi beberapa potong pakaian
milikku. Kupilih acak dan kupasang secepatnya. Aku harus pergi sebelum Lucas
datang! Kutempelkan pesan ku pada Lucas di dinding tepat di samping tiang
infus.
“Aku pergi, maafkan aku. Hiduplah
dengan bahagia. Dan tolong jaga Romeo, pastikan dia sembuh. Itu tanggung jawabmu. Adios”
Aku
mengendap ke ruang rawat Romeo, dan menempel secarik kertas berisi pesan
untuknya di dinding. Tulisannya sedikit kabur, karena aku menulisnya sambil
menangis.
“Kau benar, Romeo. Aku tidak pernah
berubah. Aku lebih memilih untuk menghindari masalah daripada menghadapinya.
Kau memang selalu benar. Aku masih tetap pengecut. Sayonara”
No comments:
Post a Comment