Monday, 16 March 2015

Mataku sepanjang jalan ini

By : Jabal Rachmat H.

    Pagi ini aku membereskan barang-barangku.Aku mempersiapkan barangku untuk kubawa ke tempatku kuliah.Kubuka jendela kamarku, aku hisap udara desa kecilku pagi ini, begitu dingin tapi sanggup menyembuhkan dahagaku pagi ini.Kuhirup lagi udara asli buatan alam ini, kutahan nafasku, kucoba merasakan indahnya rasa udara ini.Lalu kubuang nafasku.Lalu kutarik nafasku untuk ketiga kalinya, Kali ini aku lebih serakah, Kuhirup denan rakus karena takkan ada yang marah. Takkan ada yang marah apalagi akan mengadiliku hanya karena menghirup udara desaku dengan serakah dan rakus. Kucoba memenuhi paru-paru hingga lambungku dengan udara sejuk ini. Kurasakan tenggorakanku sesak dengan udara pagi ini tanpa takut itu akan membuat tenggorokanku akan tercekik.Itulah ritual yang harus kulakukan ketika aku bangun pagi.

    Ibuku segera menyuruhku untuk bergegas mandi.Tapi aku tak mendengarkan. Aku ingin memuaskan mataku  dengan memandangi pemandanga desaku yang tak akanl amalagi akan kutinggalkan untuk menuntut ilmu di kota. Aku tersenyum melihat bagaimana pephonan berbaris tak teratur tapi tetap enak dipandang mata.Berbeda dengan manusia yang sudah tak sanggup berbaris, tak teratur pula bila berbaris.Sungguh kita tak berpikir.Aku termenung bagaimana sungai berkelok-kelok tapi tetap bisa tenang arusnya.Berbedadengan manusia yang sudah tidak mau hidupnya berkelok-kelok, tidak tenang pula bila hidupnya tak berkelok-kelok.
   Pintu kamarku diketuk oleh ibuku dan memberitahuku untuk segera mandi dan berkemas karena takut ketinggalan mobil sewaan yang akan menjemputku kurang lebih sejam lagi. Aku segera meninggalkan lamunanku pada alam.Pada lingkungan yang selama ini membesarkanku hingga aku dengan terpaksa harus meninggalkannya utnuk menuntut ilmu di lingkungan baru yang sudah pasti berbeda dengan kondisi lingkungan yang telah membuatku nyaman untuk hidup selama bertahun-tahun.Ingin rasanya aku membungkus gunung-gunung, pepohonan serta sungai di desaku ini.Tapi aku tak ingin serakah karena aku tahu aku ini bukan pemilik semua itu, aku hanyalah seorang pecandu keindahan alam ini.
    Badanku menggigil ditusuk dinginnya udara pagi. Segera kubereskan pakaian dan barang-barang yang akan aku bawa, termasuk kenangan indahku dengan kampung halamanku yang begitu asri nan tenang yang selalu membuatku merasa nyaman. Setelah seluruh barangku siap, aku menuju dapur untuk makan, hanya dapur karena kami tak memiliki ruang makan seperti halnya yang orang-orang kaya miliki di rumah mereka.Setelah menikmati hidangan pagi ini aku duduk di teras rumah panggung keluargaku yang selalu setia menyelimuti kami dari dinginnya malam, yang selalu setia memayungi kami dari guyuran air hujan, Yang selalu setia meneduhkan kami dari sengatan panas matahari.Aku duduk sambil memandangi burung-burung yang saling berkicauan seakan sedang membincangkan kepergianku.“Janu akan pergi meninggalkan kita hari ini” Begitulah suara yang kudengar, di dalam imajinasi kepalaku.
    Suara deruman dan klakson mobil menyadarkanku dari fantasiku. Segera kuambil barangku dan membawanya menuju mobil yang akan membawaku pergi menjauh dari kampung kecilku yang menawan hatiku. Kujabat tangan ibuku dan ayahku serta dua orang adikku. Kemudian kutatap lesu kampungku,ingin rasanya aku menangis karena tak pernah kubayangkan sebelumnya jika aku harus meninggalkannya.
    Mobil mulai meninggalkan rumahku, tak kukedipkan mataku, mataku terpaku pada pemandangan di luar jendela mobil.Mobil meluncur menjauh dan semakin jauh membawa rasa cinta dan sayangku pada desaku yag pasti akan membuatku merasarindu pada desaku. Mobil kini meninggalkan perkampungan desaku, sekarang mobil tengah melaju di jalan yang membelah daerah persawahan.Mataku makin tak bisa berkedip melihat betapa indahnya deretan padi yang baru ditanam.Terlihat jelas deretan pohon padi yang masih kecil.Kucoba menahan air mataku agar tak tumpah.Tapi tetap saja mataku menitikkan air mata.
    Di sepanjang jalan ini, hamper semuanya tertidur kecuali aku dan pak sopir.Kulihat arlojiku, hampir sejam perjalanan kulalui.Mataku tak terasa berat, karena mataku sibuk untukmengawasi dan memperhatikan pemandangan yang ada di sepanjang jalan ini.Aku dibuat takjub di sepanjang jalan ini, kulihat betapa indahnya deretan pohon yang alam tanami dan disirima oleh langit dan ditopang oleh tanah.Begitu indah dan menawan.Setelah beberapa menit mataku terjebak di dalam pemandangan pepohonan rindang yang meneduhkan mataku, aku segera terkejut menyaksikan beberapa alat berat sedang mengeruk gunung.Kulihat itu dengan miris, betapa serakahnya kita, tak puaskah kita dengan sumber daya yang ada hingga harus mengeruk gunung dan menyulapnya jadi tumpukan tanah kering gersang.Mataku kian miris menyaksikan gunung yang dulu besar telah manusia ciutkan dengan alat-alatnya.Dengan angkuh kita mengkambing hitamkan gunung-gunung karena terjadinya tanah longsor. Terlalu sombongkah kita utuk mengakui bahwa keserakahan kitalah yang mencabuti akar pepohonan dan meninggalkannya begitu saja tanpa da yang dapat ia tinggalkan  ?.
    Mobil semakin bergerak menjauh meninggalkan gunung-gunung yang dulunya hijau telah berubah menjadi kering kecoklatan.Aku termenung sendiri di dalam mobil, sementara pak sopir acuh dengan keadaan di sampingnya dan fokus ke depannya, tak memedulikanku.Kembali kuhadapkan wajahku ke jendela mobil yang melaju kencang.Kubuka jendela kaca mobil, kubiarkan udara kencang menyelusup masuk.Kubiarkan angin dengan kencangnya berhembus dan mengenai wajahku.
    Setelah kulewatkan beberapa menitku dengan melihat keindahan lautan biru yang terpampang di sebelah jalan, mataku kini kembali serasa terbakar melihat deretean batang pohon yang menghitam di tanah yang kering kerontang. Itu bukanlah deretan tumbuhan jenis baru yang sedang dikembangkan agar bisa tumbuh di atas tanah yang kering kerontang, melainkan tumbuhan yang telah lama tumbuh yang kemudian dibakar oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab yang seenaknya saja membakar apa yang menyimpan air. Kucoba menghadirkan kembali hutan di pinggir desaku, sebuah hutan hijau yang sejuk dengan tanah yang subur yang membuat siapapun ada di dekanya merasa tenang.Bereda dengan hutan yang telah disulap menjadi tumbuhan “spesies baru” yang membuat kita yang melihatnya menjadi gerah.
    Kuperhatikan kembali dengan seksama hutan kering itu, dari kejauhan Nampak beberapa orang remaja dengan memakai pakaian serba cokelat dan membawa tongkat, sedang menggali di tanah. Aku bingung, sedang apa mereka ?buat apa mereka menggali di tanah di tempat yang kering ? kucoba perhatikan lagi, dan ternyata datanglah beberapa teman mereka lagi yang membawa bibit tanaman di dalam polybag. Aku tahu, mereka lah yang harus dipertahankan oleh Indonesia, generasi muda yang peduli lingkungannya. Bukan anak muda yang tahunya hanya bermain gadget  tanpa peduli dengan lingkungan yang selalu mengeluh kepanasan kemudian dengan mencaci matahari yang telah meberinya cahaya dan menerangi siangnya. Mengkambing hitamkan pepohonan yang lama tumbuh tanpa mereka pikir bahwa manusia yang serakah menebangi pepohonan dan melangkakan mereka.Aku tersenyum melihat para remaja itu, ingin rasanya aku bergabung dengan mereka.Kucoba tersenyum pada mereka, tapi sepertinya mereka tak melihatku.
    Mataku terfokus kepada remaja-remaja tersebut, tapi pak sopir tetap fokus pada kendaraannya, dan lambat laun remaja-remaja tersebut kutinggalkan.Aku mulai lelah, kurasa mataku mulai berat untuk terus mencari cahaya matahari.Aku mulai terlelap pada tidurku.Tak ada bunga-bunga yang kujumpai dalam tidurku Hanya layar hitam yang kulihat.
    Ku mulai terbangun, perjalananku sudah hampir mencapai tempat tujuanku kali ini, setelah melewati deretan hutan bakau, terlihatlah dengan jelas mataku pemandangan yang tak pernah kutemui ketika aku masih berada di kampung halamanku, lautan.Kulihat betapa birunya lautan, betapa luasnya lautan, betapa indah laut itu.Kulihat para nelayan sedang mengangkat ikan tangkapannya dari kapalnya.Ingin rasanya kumendekat, tapi sopir tak berminat. Aku terus melihat dan memperhatikan laut nan luas itu hingga pepohonan rindang menggantikannya di mataku. Setelah kusaksikan rindangnya pepohonan hijau, mataku kini mulai menyaksikan perkampngan masyarakat.Aku miris melihat perkampungan itu.Bukanlah sungai jernih temat para anak kecil mandi seperti yang kulihat di kampungku, tetapi sebuah sungai multifungsi yang bukan hanya menjadi toilet massal, tetapi juga menjadi tempat sampah massal.Ngeri rasanya bila sungai itu ada di kampungku.
    Akhirnya, setelah perjalanan yang melelahkan mataku, akhirnya aku tiba di sebuah terminal.Tapi perjalananku belum sampai disini. Aku harus berjalan beberapa ratus meter untuk mencari becak sambil menenteng dua tas dan memikul sekarung beras, ditambah dengan sengat matahari yang tak tahu kompromi dan isi perut yang mulai menipis, lengkap sudah penderitaanku siang ini. Kulihat seorang abang becak sedang tertidur di dalam becaknya, kucoba membangunkannya.
    Syukurlah, sang abang becak itu bersedia bangun dari mimpinya dan siap mengantarku ke tempatku mengejar mimpi. Di tengah perjalanan, kutangkap sosok seorang anak kecil dengan membawa sebuah karung usang sedang memunguti gelas plastik bekas minuman yang dibuang begitu saja oleh orang-orang tanpa peduli siapa yang akan rugi. Kulihat pula seorang gadis yang dengan seenaknya membuang botol bekas air mineralnya, dan menatap jijik terhadap anak kecil tadi.Mungkin yang ada dalam pikiran gadis itu adalah betapa memalukannya anak kecil itu, bekerja dengan memunguti sampah. Kucoba menahan tawaku dari pikiranku itu. Tak berpikirkah gadis itu bahwa dialah yang mestinya malu karena kerjanya hanyalah menjadi tukang kotor sedang sang nak kecil tadi adalah sang tukang bersih yang setia membersihkan sampah yang kita tebarkan tanpa minta diliput, ditepuk tangani, atau paling tidak diberi ucapan terima kasih. Dialah sang insinyur lingkungan yang sesungguhnya. Tanpa gelar apapun, tanpa pendidikan ia bisa menjadi orang yang sebenarnya berguna tapi terkucilkan oleh keadaan sosial. Kita yang terkadang tak tahu memisahkan barang daur ulang dan sampah basah bisa dikalahkan oleh seorang bocah yang menenteng sebuah karung lusuh.









Makassar, 18 Agustus 2014

No comments:

Post a Comment