Tuesday, 17 February 2015

Mari saya kerjakan untukmu







Terkadang kita melihat seorang teman yang kesulitan dan bahkan bisa dikatan dia dalam posisi "di ujung tanduk". Akan tetapi, kita mendiamkannya saja. Membiarkan teman kita tersebut menderita sendiri dengan berdalih "Maaf, saya juga sibuk", "Maaf, tapi saya tak kenal siapa kamu", "Maaf, tapi saya punya tugas yang banyak". Itulah kita, tanpa kita sadari, baik mau mengakui maupun tidak.

Kita masih kurang berani mengulurkan tangan kita. Atau bahkan kita gengsi untuk mengulurkan tangan kita untuk saudara kita ?? Tak malukah kita bila suatu hari nanti orang tersebut yang malah akan menolong kita di suatu hari ?? Tak berpikirkah kita bila suatu saat pasti kita akan membutuhkan pertolongan orang lain ??

Sungguh miris keadaan kita, sunggug tragis kondisi kita. Kita selalu mengatasnakamakan perseaudaran, kita selalu berkoar demi persahabatan, tapi nyatanya di lapangan kita tak lebih dari orang egois yang diliputi rasa penuh individualisme.

Apakah kita ini sudah buta utuk melihat tangis sahabat kita ?? Apakah kita sudah tuli mendengar isakan mereka ?? apakah kita sudah lumpuh untuk melangkahkan kaki ke arah mereka ?? Entahlah, aku tak tahu. Aku hanya manusia dengan satu pandangan yang mencoba menafsirkan masalah.

Saat kita susah, kita cenderung berpikir "Mengapa tak ada yang membantu saya ??", sederhana saja, jawabannya adalah, "saat kau merasa tenang, kau sama sekali tak berkata 'mari saya kerjakan untukmu'", Sungguh miris keadaan kita. Mari buka mata kita, banyak teman kita yang menangis. Mari buka telinga kita, dengarkan cerita mereka. Bukalah tanganmu, rangkullah mereka, genggam erat tangannya.


No comments:

Post a Comment