By : Mukarram Mudjahid
Sebagaimana kita ketahui masalah global yang trend dan ramai dibicarakan saat ini adalah masalah “Kanker” dan “Kenaikan BBM”. Tahukah Anda terdapat berjuta- juta spesies tumbuhan yang masih menjadi misteri dalam pemanfaatannya, dan telah kita ketahui bersama bahwa setiap tumbuhan terdapat zat aktif yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan ataupun dalam bidang lainnya, dan dalam artikel ini saya akan mencoba memberikan beberapa contoh tumbuhan alami yang sekarang terus dikembangkan dalam penelitian sebagai Terapan “Amazing” dalam menghadapi masalah global di Indonesia.
- zat kurkumin pada kunyit yang digunakan sebagai agen anti Kanker kombinasi yang sangat efektif
Tahukah Anda Prof. Dr. Edy Meiyanto, Apt., M.Si ??, wah pada tidak tau nih.., nah beliau adalah dosen farmasi UGM, yang terpilih sebagai pemenang pertama Kompetisi Ristek- Kalbe Science Award (RSKA) Penghargaan berhasil diperolehnya setelah sebelumnya berhasil masuk 10 finalis menyisihkan 176 peneliti dari berbagai lembaga di Indonesia. Penghargaan diserahkan secara langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta. Edy Meiyanto mengajukan penelitian akan zat kurkumin yang digunakan sebagai agen anti Kanker kombinasi yang sangat efektif. Fakultas Farmasi UGM memanfaatkan 3 kombinasi senyawa hasil penelitian sebagai agen anti kanker. Adalah senyawa kurkumin yang terkandung dalam kunyit dikombinasikan dengan Penta Gama Vunon-0 (PGV-0) dan Penta Gama Vunon-1(PGV-1). Sebelumnya ketiga senyawa tersebut telah dikembangkan oleh para peneliti di Fakultas Farmasi UGM sebagai agen anti inflamasi yang terbukti efektif menekan peradangan.
“Dari uji coba in-vitro (skala laboratorium) hasilnya kombinasi ketiga senyawa tersebut efektif membunuh sel kanker. Di satu sisi senyawa potensial sebagai eksekutor kematian sel kanker, sementara di sisi lainnya senyawa yang lain memacu sinyal pertumbuhan,” paparnya saat di temui di ruang kerjanya di CCRC Fakultas Farmasi UGM, Jumat (19/9).
Kini, ia bersama peneliti di CCRC UGM tengah berupaya mengeksplorasi mekanisme agen anti kanker yang lebih pasti. Dilanjutkan dengan melakukan uji coba pada hewan. “Tak hanya itu kedepan juga akan dilakukan eksplorasi terhadap penyebaran sel kanker ke jaringan lain,” ungkapnya. (Humas UGM/Ika)
- Penggunaan Sari Pohon Sagu Sebagai Salah Satu Sumber energi Alternatif dalam Pembuatan Bioetanol.
Dengan komposisi kimia pati sagu yang terdiri dari karbohidrat 82,8%, kelembaban 12,8 %, lemak 0,11-0,28 %, protein 0,03 %, abu 0,15-0,28 %, dan senyawa lain 1,18-164 %. Kandungan karbohidrat yang tinggi ini memberikan peluang bagi sagu untuk menghasilkan etanol yang tinggi pula.
Sesuai dengan perolehan etanol, menurut Soerawidjaja (2006) yaitu 608 liter per-ton pada pati sagu kering maka energi etanol yang dihasilkan oleh sagu tersebut mencapai 9120 liter per-hektar per-tahun. Dari hasil penelitian ini maka digunakan produksi etanol per-satu ton sagu adalah 550 liter.
Proses kerja dari pengolahan sagu menjadi alternatif pengganti BBM (Bioetanol)
Pati sagu tidak dapat langsung difermentasi untuk menghasilkan etanol karena sagu mengandung glukosa polimer. Pembuatan etanol dari pati sagu melalui proses hidrolisis, fermentasi, destilasi dan dehidrasi. Sedangkan gula melalui fermentasi, destilasi dan dehidrasi.
1. Pertama adalah proses hidrolisis, yakni proses konversi pati menjadi glukosa. Prinsip dari hidrolisis pati pada dasarnya adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa (C6H12O6). proses pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat pembantu yang dipergunakan, yaitu Hydrolisa asam dan Hydrolisa enzyme. Berdasarkan kedua jenis hydrolisa tersebut, saat ini
hydrolisa enzyme lebih banyak dikembangkan, sedangkan hydrolisa asam (misalnya dengan asam sulfat) kurang dapat berkembang, sehingga proses pembuatan glukosa dari pati-patian sekarang ini dipergunakan dengan hydrolisa
enzyme. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air dilakukan dengan penambahan air dan enzyme
2. Kedua adalah proses Fermentasi, Proses fermentasi dimaksudkan untuk mengubah glukosa menjadi ethanol/bio-ethanol (alkohol) dengan menggunakan yeast. Alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi, biasanya masih mengandung gas - gas antara lain CO2 (yang ditimbulkan dari pengubahan glukosa menjadi ethanol l/ bio-ethanol) dan aldehid yang perlu dibersihkan. Gas CO2 pada hasil fermentasi tersebut biasanya mencapai 35 persen volume, sehingga untuk memperoleh ethanol/bio-ethanol yang berkualitas baik, ethanol/bio-ethanol tersebut harus dibersihkan dari gas tersebut. Proses pembersihan (washing) CO2 dilakukan dengan menyaring ethanol/bio-ethanol yang terikat oleh CO2, sehingga dapat diperoleh ethanol/bio-ethanol yang bersih dari gas CO2). Kadar ethanol/bio-ethanol yang dihasilkan dari proses fermentasi, biasanya hanya mencapai 8 sampai 10 persen saja, sehingga untuk memperoleh ethanol yang berkadar alkohol kurang lebih 80% persen diperlukan proses lainnya, yaitu dengan proses destilasi.
3. Ketiga adalah proses destilasi, untuk memurnikan bioetanol menjadi berkadar kurang lebih 80%, alkohol hasil fermentasi yang mempunyai kemurnian sekitar 10% tadi harus melewati proses destilasi untuk memisahkan alkohol dengan air dengan memperhitungkan perbedaan titik didih kedua bahan tersebut yang kemudian diembunkan kembali, masalah yang timbul adalah sulitnya memisahkan hidrogen yang terikat dalam struktur kimia alkohol dengan cara destilasi biasa, oleh karena itu untuk mendapatkan fuel grade ethanol dilaksanakan pemurnian lebih lanjut dengan cara Azeotropic destilasi dengan shingga mendapatkan kemurnian sekitar 80% lebih..
4. Keempat adalah proses dehidrasi, proses ini digunakan untuk membuang sisa- sisa air yang masih terkandung dalam etanol azeotropic (hasil destilasi Azeotropic dari etanol). Sehingga mendapat etanol dengan kemurnian 99,5%.
Dan sampai sekarang masih terus dikembangkan, sehingga ke depannya dapat menjadi solusi alternatif yang ramah lingkungan.
Itulah beberapa contoh singkat beberapa penggunaan bahan alami yang dapat diterapkan secara amazing,bukan saja untuk skala konsumtif tetapi saat ini perlu dikembangkan secara produktif.
Referensi:
1. http://ugm.ac.id/id/berita/9291- dosen.ugm.kombinasikan.3.senyawa.kurkumin.untuk.anti.kanker
2. http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/?p=4209
3. Jurnal kimia Universitas Andalas, Volume 1 nomor 1, November 2012
JKK, Volume 2(1), Halaman 52-57 (ISSN 2303 – 1007).
No comments:
Post a Comment