By : Diana Fitria
Farmasi ? Apa itu farmasi ? Mungkin untuk sebagian orang, farmasi bukanlah sesuatu hal yang baru. Tetapi sebagian besar masyarakat, khususnya bagi mereka yang awam ketika ditanya mengenai hal yang berkaitan dengan farmasi, hanya sekitar 15% dari mereka yang bisa memberikan argument dan tanggapan mereka tentang farmasi. Faktanya, sebagian besar dari mereka memiliki anggapan yang sama tentang farmasi, yaitu mereka memandang farmasi dari segi prospek kerjanya dan alhasil dari pemikiran mereka, farmasi adalah mereka yang berprofesi sebagai penjual obat-obatan. Inilah suatu bentuk kenyataan pemikiran masyarakat tentang anggapan mereka mengenai farmasi.
Pada dasarnya, bidang farmasi berkecimpung pada lingkup dunia kesehatan yang mengutamakan produk dan pelayanan produk bagi masyarakat dalam hal kesehatan. Dalam sejarahnya, pendidikan tinggi di Indonesia telah menciptakan dan meresmikan terbentuknya program studi farmasi dimasing-masing universitas untuk melahirkan generasi-generasi baru yang mampu melahirkan formula-formula baru yang nantinya dapat dipasarkan dan digunakan oleh masyarakat sebagaimana mestinya. Generasi-generasi inilah yang akhirnya disebut farmasis dan apoteker yang berperan sebagai penanggung jawab apotek. Sebutan-sebutan ini semakin mengarahkan para farmasis dalam lingkup kerja yang lebih luas, bukan hanya sebagai penjual obat sebagaimana pemikiran masyarakat pada umumnya. Prospek kerja yang dimaksud antara lain apotek, rumah sakit, lembaga pemerintahan, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, laboratorium pengujian mutu, laboratorium klinis, laboratorium forensik, berbagai jenis industri obatm kosmetik-kosmeseutikal, BPOM(Badan Pengawas Obat dan Makanan), serta badan asuransi kesehatan adalah wadah dimana para farmasis dapat melaksanakan pengabdian profesi kefarmasian mereka.
Dalam lingkup farmasi tidak akan terlepas dari formula-formula baru. Formula yang dimaksud disini adalah produk-produk berupa obat, baik dalam bentuk cair, kapsul, tablet, maupun serbuk. Ketika mendalami bidangnya, seorang farmasis mampu membuat sebuah formula baru dengan melibatkan berbagai unsur senyawa kimia. Hal yang menarik dari proses ini adalah ketika seorang farmasis mampu menganalisis dimana formula tersebut akan terdesintegrasi dan terlarut pada bagian tertentu sesuai dengan keluhan pasien.
Selain formula yang bersifat kimiawi, seorang farmasis juga mampu membuat formula yang bersifat herbal (obat herbal). Di Indonesia, terdapat kurang lebih 30.000 species tumbuhan dan 940 species diantaranya memiliki khasiat tertentu yang dapat digunakan khususnya dalam bidang kesehatan. Hal ini dapat mendukung potensi pasar obat herbal di Indonesia. Produksi obat herbal di Indonesia telah dilakukan selama beberapa tahun yang lalu dengan memanfaatkan bahan alami dari tumbuhan seperti jamu. Obat herbal tidak saja digunakan dinegara berkembang, bahkan negara maju juga telah mengembangkan produksi obat herbal. Faktor penunjang berkembangnya produksi obat herbal salah satunya adalah adanya kegagalan obat modern dalam mengatasi penyakit tertentu seperti kanker dan didukung oleh adanya penemuan obat herbal yang dapat mencegah penyakit kanker serta luasnya informasi mengenai pemanfaatan ekstraksi tanaman dalam pembuatan obat herbal.
Dari 940 species tumbuhan berkhasiat, hanya sekitar 180 species yang saat ini telah diesktrak untuk diambil khasiatnya. Dengan minimnya penggalian potensi tersebut, disinilah peran farmasis dibutuhkan. Dalam hal ini para farmasis dituntut untuk menemukan sediaan baru dengan memanfaatkan potensi tumbuhan berkhasiat yang belum dieksploitasi sebagai bahan baku obat herbal. Selain itu, informasi mengenai tingkat keamanan obat herbal merupakan tantangan besar bagi para farmasis agar obat herbal semakin dapat diterima oleh masyarakat luas.
Selain obat herbal, salah satu produk yang dapat diproduksi oleh industri farmasi di Indonesia adalah kosmetik dan kosmeseutikal. Kosmetik adalah semacam produk yang lebih ditujukan untuk membersihkan, untuk membersihkan, meningkatkan kecantikan atau meningkatkan daya tarik dan mengubah penampilan bukan untuk menangani penyakit kulit. Adapun kosmeseutikal yaitu istilah untuk produk kosmetik yang mengandung zat aktif yang bertindak sebagai obat (pharmaceutical) contohnya anti-wrinkle creams, baldness treatment, antiperspirant dan sunscreens.
Saat ini kosmetik dan komeseutikal bukan lagi hal yang baru bagi masyarakat. Hampir ditiap sudut kota akan ditemukan jejeran toko yang khusus menjual kedua produk tersebut. Dengan semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat, berdampak pada peningkatan konsumen dalam menggunakan kedua produk tersebut. Hal ini tentu saja menjadi tantangan yang besar bagi para farmasis. Mereka akan dituntut untuk melahirkan produk-produk kosmetik dan komeseutikal yang baru dan berkualitas. Berkualitas dalam artian lebih baik, aman, dan mudah digunakan.
Fokus untuk para farmasis selanjutnya adalah nutrisi dan nutraseutikal. Produk nutrisi dapat digunakan sebagai obat pada kondisi kekurangan gizi (malnutrisi, malgizi). Produk nutrisi dapat berupa nutrisi parenteral untuk pasien yang dirawat di rumah sakit dan nutrisi enteral yang dikenal pula sebagai food suplemen (vitamin, mineral, asam amino dll.). Adapun nutraseutikal adalah semacam produk kombinasi nutrisi yang digunakan masyarakat untuk mengobati penyakit. Nutraseutikal yang dikenal juga sebagai phytochemicals, medical foods, functional food, pharmafoods dan nutritional supplement, diartikan sebagai bahan alamdalam keadaan murni atau pekat, atau senyawa kimia bioaktif yang mempunyai efek meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit atau mengobati penyakit. Contoh nutraseutikal adalah beta karoten untuk mencegah serangan jantung, glukosamin untuk menangani osteoartritis dll.
Dengan kecendrungan masyarakat yang menggunakan nutrisi untuk mengobati penyakit merupakan perhatian besar bagi para farmasis. Disini mereka dituntut untuk melahirkan dan menciptakan sediaan baru dengan cara mengkombinasikan bahan-bahan pokok nutrisi agar menjadi nutraseutikal yang sehat dan aman dikonsumsi oleh masyarakat.
Dari uraian di atas, dapat dipersepsikan bahwa seorang farmasis tidak hanya akan berujung pada profesi sebagai penjual obat. Akan banyak hal yang dipelajari, ditekuni, dan didalami oleh para farmasis untuk menciptakan formula-formula baru yang akan didistribusikan ke masyarakat. Dari perspektif tersebut menunjukkan banyaknya potensi prospek kerja seorang farmasis kedepannya sesuai dengan bidang kefarmasiannya.
No comments:
Post a Comment